Menkes Budi Klaim MMS Lebih Efektif Ketimbang Pil Tambah Darah Biasa

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan program pemberian suplemen tambahan bagi ibu hamil, bernama Multi Micronutrient Supplement atau MMS di Kota Bandung, Kamis 17 Oktober 2024.

Menkes Budi Klaim MMS Lebih Efektif Ketimbang Pil Tambah Darah Biasa

INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan program pemberian suplemen tambahan bagi ibu hamil, bernama Multi Micronutrient Supplement atau MMS di Kota Bandung, Kamis 17 Oktober 2024.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, MMS merupakan pengganti tablet tambah darah. Dimana diklaimnya lebih efektif, karena total ada 10 vitamin dan lina mineral yang terkandung.

"Gizinya ibu hamil akan jauh lebih baik, kemudian bayinya lahir juga kebih sehat. Di seluruh dunia sudah ada risetnya, sudah jadi guidance WHO sejak 2020, kita baru implementasikan sekarang," ujar Menkes Budi.

Dia melanjutkan, Jabar menjadi provinsi pertama yang disalurkan MMS karena berdasarkan data, memiliki jumlah ibu hamil paling banyak di Indonesia.

"Kita harapkan, kalau ini udah diluncurkan secara nasional. Mulai tahun depan, nanti bisa mengurangi kelahiran bayi yang bermasalah gizi dan juga bisa mengurangi kematian bayi," ucapnya.

Menkes Budi melanjutkan, sementara MMS akan didistribusikan di 15 provinsi terlebih dahulu, dengan jumlah kelahiran bayi paling banyak dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Dimana MMS hasil sumbangan dari luar, Vitamin Angel dan Kirk International pada tahun ini, serta UNICEF di tahun depan.

"Kita butuhnya kan ibu hamil 4,9 juta. Masing-masing butuh 180 tablet untuk enam bulan. Jadi kebutuhan 900 juta tablet dalam setahun," terangnya.

Jumlah ibu hamil anemia kata dia, sekitar 27 persen dan kekurangan gizi kronis sekira 17 persen atau total 44 persen dari 4,9 juta ibu hamil.

Maka dari itu dia mendorong, ke depan suplemen MMS ini dapat diproduksi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan ibu hamil di Indonesia.

"Tahun depan sudah ada produksinya, cuma belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Mungkin dalam 2-3 tahun. Jadi ini juga membangun industri obat-obatan dalam negeri," ujarnya.

Menkes Budi berharap, dengan adanya upaya ini kasus BBLR dapat menurun. Demikian pula kasus kematian pada bayi, yang saat ini kata dia masih di angka 6,9 persen.

"Kalau saya maunya di bawah 5 (persen). Kematiannya enggak boleh lebih dari itu. Kasihan bayi-bayi," tandasnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti