Menristekdikti Ingin Percepat Merger Perguruan Tinggi

INILAH, Bandung - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir ingin mempercepat proses merger kampus-kampus yang masih berada di bawah satu naungan yayasan.

Menristekdikti Ingin Percepat Merger Perguruan Tinggi
Menristekdikti Prof M Nasir

INILAH, Bandung - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir ingin mempercepat proses merger kampus-kampus yang masih berada di bawah satu naungan yayasan.

Dalam kunjungannya ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Bakti Kencana, Bandung, Jawa Barat, Nasir mengatakan merger perguruan tinggi yang berada di bawah satu yayasan sangat penting agar kualitas dan kinerjanya menjadi lebih baik. 

"Ada 11 perguruan tinggi di bawah Yayasan Adiguna Bakti Kencana yang kami merger. Saya ingin ini dipercepat sehingga menjadi satu perguruan tinggi dari beberapa yang tersebar di banyak daerah," kata Nasir kepada wartawan di Bandung, Selasa (9/4/2019).

Dia mengatakan hal ini berlaku bagi bagi semua yayasan yang memiliki beberapa perguruan tinggi. Setelah perguruan-perguruan tinggi yang berada di bawah satu yayasan telah berhasil digabungkan, maka langkah selanjutnya yakni menggabungkan perguruan tinggi dari yayasan yang berbeda. 

"Setelah ini akan kami siapkan skema baru, nanti yang beda yayasan akan kami merger," ujar Nasir. 

Meskipun demikian dia mengaku belum mengecek ulang jumlah perguruan tinggi yang sudah dimerger sampai saat ini. Nasir berjanji akan mengumumkan perkembangannya pada akhir bulan April 2019. 

"Akan kami monitor berapa jumlah perguruan tinggi yang telah dimerger," kata Nasir. 

Direktur Jenderal (Dirjen) Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknolog dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo menuturkan, jumlah perguruan tinggi di Indonesia saat ini terlalu banyak yakni 4.529 perguruan tinggi pada Januari 2017 dan sekarang angkanya sudah bertambah.

"Sekitar 70% perguruan tingginya itu kecil-kecil yang bentuknya akademi yang cuma satu program studi, dua program studi, sehingga meskipun jumlahnya banyak daya tampungnya itu cuma sedikit sehingga masih banyak yayasan yang ingin mendirikan perguruan tinggi swasta," kata Patdono. 

Patdono mengatakan dari 4.529 perguruan tinggi di Indonesia itu, 14% dari total itu merupakan perguruan tinggi yang kurang sehat. "Maka kurang sehat itulah, kita minta untuk merger, di samping merger, bisa diakuisisi," ujarnya.


Editor : inilahkoran