Menyalakan Nalar di Tengah Perubahan
TRANSFORMASI pendidikan tak cukup berhenti pada kebijakan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan perubahan benar-benar sampai ke ruang kelas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Pendidikan tidak cukup hanya berganti program. Di ruang kelas, perubahan baru berarti ketika guru mampu menerapkannya, siswa benar-benar memahami pelajaran, dan praktik baik terus berjalan meski berganti orang dan waktu.
Pesan itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat menyoroti transformasi pendidikan yang kini didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui penguatan literasi, numerasi, serta pendekatan science, technology, engineering, and mathematics (STEM) berbasis PISA.
Menurut Lestari, kebijakan pendidikan yang baik tidak boleh berhenti pada pengumuman atau kegiatan seremonial. Ukurannya adalah konsistensi pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan di lapangan.
“Kebijakan pendidikan yang baik, tidak cukup hanya diumumkan. Yang menentukan adalah apakah ia konsisten dijalankan, dievaluasi, dan diperbaiki dari waktu ke waktu,” kata Lestari dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (13/9).
Dia menilai persoalan mendasar pendidikan Indonesia masih berada pada kualitas pembelajaran. Data Asesmen Nasional 2025 menunjukkan sekitar 55,7 persen siswa sekolah dasar baru mencapai batas minimum kompetensi literasi membaca.
Pada saat yang sama, sekitar separuh siswa Indonesia secara umum belum mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi.
Angka tersebut menunjukkan, pekerjaan rumah pendidikan belum selesai. Akses terhadap sekolah memang penting, tetapi kemampuan anak memahami bacaan, mengolah angka, bernalar, dan memecahkan persoalan menjadi fondasi yang tidak kalah penting.
“Angka-angka ini menunjukkan persoalan kualitas pembelajaran belum sepenuhnya teratasi. Akses pendidikan memang penting, tetapi kualitas juga harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Kenaikan capaian Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) pun, menurut Lestari, tidak boleh membuat pemerintah lengah.
Skor sains Indonesia naik enam poin menjadi 389, sedangkan skor membaca meningkat enam poin menjadi 365. Namun, matematika justru turun dua poin menjadi 364 dibandingkan PISA 2022. Bagi Lestari, penurunan itu menjadi catatan yang harus segera dijawab. (gin)
Editor : Inilahkoran

