Sikap Kami: Menanti Kabar dari Laut
Lima wartawan hilang saat liputan di kawasan Anak Krakatau. Pencarian di perairan Selat Sunda masih berlangsung, harapan mereka pulang tetap terbuka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
ADA pekerjaan yang mengharuskan seseorang datang ketika orang lain memilih menjauh. Ketika air meluap, api membesar, tanah bergerak, atau gunung mengeluarkan asap dan abu, di sanalah Wartawan kerap berdiri.
Mereka membawa kamera, buku catatan, mikrofon, dan satu keyakinan sederhana: ada yang harus diketahui publik. Namun pada Senin, 7 September 2026, sebuah perjalanan liputan berubah menjadi kabar yang tak pernah ingin didengar siapa pun.
Lima Wartawan, M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal, Wartawan lepas, berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita. Tujuan mereka kawasan Anak Krakatau.
Mereka hendak merekam keadaan, mencari gambar, dan membawa pulang cerita dari salah satu kawasan paling aktif di Selat Sunda. Namun sore itu, perjalanan mereka terhenti di tengah laut. Sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi terputus.
Sejak itu, pencarian dilakukan. Tim SAR menyisir perairan dan memperluas wilayah pencarian dengan mempertimbangkan arah arus dan angin. Di daratan, keluarga, rekan, dan orang-orang yang mengenal mereka menanti satu kabar yang melegakan.
Laut menjadi ruang yang menyimpan banyak kemungkinan. Permukaannya terus bergerak, sementara cakrawala terbentang luas tanpa memberi jawaban.
Di tengah ketidakpastian itu, ingatan kembali pada pekerjaan yang membawa kelima Wartawan tersebut ke sana. Anak Krakatau sedang berada dalam aktivitas vulkanik tinggi, dan kawasan Selat Sunda menjadi tempat yang selalu menuntut kewaspadaan.
Bagi mereka, perjalanan itu adalah bagian dari tugas untuk melihat sebuah peristiwa dari dekat dan mengabarkannya kepada publik. Ada begitu banyak cerita yang lahir dari perjalanan semacam itu.
Wartawan datang, mengamati, mencatat, memotret, lalu kembali membawa apa yang dilihatnya kepada orang-orang yang berada jauh dari lokasi. Begitulah sebuah peristiwa akhirnya sampai ke rumah-rumah, halaman koran, layar ponsel, dan ruang-ruang tempat orang membicarakannya.
Kali ini, cerita itu belum selesai. Masih ada perjalanan yang sedang ditempuh tim pencarian, masih ada jejak yang dicari di antara luasnya perairan, dan masih ada kemungkinan yang belum terjawab. Laut memang menyimpan jarak, tetapi jarak bukan selalu berarti akhir.
Kini, bukan gambar yang mereka dapatkan yang menjadi perhatian. Bukan pula cerita yang sempat mereka catat. Yang paling penting adalah lima nama yang berangkat pada sebuah sore dengan rencana sederhana: menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke daratan.
Pencarian masih berlangsung. Harapan untuk menemukan mereka dalam keadaan selamat pun tetap terbuka. Di tengah luasnya Selat Sunda, setiap petunjuk terus ditelusuri. Setiap kapal yang bergerak membawa kemungkinan. Semoga mereka pulang. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

