SIKAP KAMI: Siapa Teladan Kita?

NEGARA kita sedang tidak baik-baik saja. Runtuhnya moral, porak-poranda ekonomi, hingga minimnya peluang kerja, bukan masalah yang tak kasat mata.

SIKAP KAMI: Siapa Teladan Kita?
Kasir bank menunjukkan lembaran uang rupiah dan dolar AS. (antara)

NEGARA kita sedang tidak baik-baik saja. Runtuhnya moral, porak-poranda ekonomi, hingga minimnya peluang kerja, bukan masalah yang tak kasat mata. Buktinya ada dimana-mana. Tak perlu ditutup-tutupi karena bukan hal yang sulit dicari.

Sekarang kita butuh sebuah keteladanan, sikap mulia yang hadir untuk menguatkan bukan semakin menjerumuskan. Sekarang, ya sekarang, karena semuanya sedang serba samar dan mengerikan. Masa depan yang entah bagaimana gambarannya, atau hari esok yang selalu sama keadaanya. 

Siapa yang mau hidup dalam kegelisahan? Atau, sering-sering menggerutu menyampaikan keluhan? Semua bukan kritik atas sebuah kepemimpinan, tetapi kecewa dan lelah akan keadaan. Kita sedang mengadu, bukan menghujat. Mempertanyakan, bukan hendak menjatuhkan.

Ramai-ramai masyarakat menyampaikan isi hatinya. Beragam caranya. Lewat obrolan di warung-warung kopi, atau lewat isi pikiran yang tertuang dalam tulisan-tulisan. Semuanya mengarah pada satu kesamaan: rindu perubahan, rindu kekaguman. Kita ingin benar-benar mengagumi secara alami. Tanpa paksaan, rayuan, atau sogokan.

Maka mendengar pemimpin kita mempersilakan warganya pindah negara ketika menganggap Indonesia suram, ibarat hujan menghujani tubuh yang sedang menggigil kedinginan. Bukan reaksi yang menghangatkan melainkan sinis teramat menyakitkan. 

Padahal bicara soal Indonesia suram bukanlah sebuah hal yang berlebihan. Persoalan-persoalan besar tak kunjung tertuntaskan. Nilai tukar dolar terus melejit, beban pajak makin mencekik, penghasilan tak sebanding beban, dana-dana rakyat jadi bancakan. 

Tak cukupkah itu dijadikan tolok ukur? Sebagian saudara kita mungkin hanya menelan ludah ketika mendapati berita aparat penegak hukum malah menimbun emas hingga 74 kilogram. Itu sebuah ketidakadilan.

Dan banyak diantara kita, mempertanyakan keadilan itu, mempertanyakan kepada pemimpinnya di negeri ini. Tapi malah, kalimat bermakna usiran yang didapati. Bukankah itu ironi?  

Di negara nun jauh di sana, seorang intelektual publik macam John C.Maxwell pernah menulis tentang pentingnya keteladanan pemimpin. Dalam bukunya The 21 Irrefutable Laws of Leadership (1998), Maxwell menyatakan bahwa “pemimpin sejati harus memimpin dengan memberi contoh yang baik; kepatuhan diri terhadap tanggung jawab adalah keharusan”. 

Keteladanan bukan sekadar tampilan permukaan dengan citra yang baik, melainkan harus terwujud dalam tindakan yang konsisten. Lebih utamanya memiliki integritas yang selalu mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.

Kita tentu tak perlu mengingatkan para pemimpin di negeri ini tentang isi buku di atas. Mereka mungkin telah melahapnya jauh-jauh hari, bahkan sebelum kita tahu judulnya. Tapi, kita berhak mempertanyakan sebuah implementasi. Dari hal kecil saja, tentang bagaimana pemimpin negara memperlakukan warga apapun bentuknya, gerakan atau ucapan.

Tapi ya sudahlah, mari kita bermimpi lagi sembari berdoa, kelak datang pemimpin yang benar-benar mengerti kegelisahan, kecemasan, hingga kesengsaraan hidup kita. Sembari menunggu itu nyata datangnya, terus-teruslah bertanya: siapa sebenarnya teladan kita?


Editor : Doni Ramdhani