Sikap Kami: Lindungi Diri

EL NINO bukan sekadar istilah cuaca yang muncul sesekali dalam laporan prakiraan. Fenomena itu adalah pengingat, iklim tidak lagi bisa dipandang stabil.

Sikap Kami: Lindungi Diri
El Nino bukan sekadar istilah cuaca yang muncul sesekali dalam laporan prakiraan. Fenomena itu adalah pengingat, iklim tidak lagi bisa dipandang stabil.

El Nino bukan sekadar istilah cuaca yang muncul sesekali dalam laporan prakiraan. Fenomena itu adalah pengingat, iklim tidak lagi bisa dipandang stabil, apalagi mengikuti pola lama. 

Ketika suhu laut menghangat dan pola hujan bergeser, dampaknya merambat luas: dari kekeringan, gagal panen, hingga meningkatnya risiko kesehatan masyarakat. Indonesia kembali berada dalam periode kewaspadaan. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan potensi menguatnya El Nino yang dapat memperpanjang musim kemarau dan memperparah cuaca ekstrem. Dalam situasi seperti ini, yang diuji bukan hanya kesiapan infrastruktur, tetapi juga disiplin kolektif dalam menghadapi perubahan. 

Peringatan dini sering kali belum direspons secara memadai. cuaca ekstrem baru dianggap serius ketika dampaknya sudah terasa: air mulai sulit diperoleh, lahan mengering, atau kebakaran terjadi di berbagai titik. Padahal, esensi dari peringatan adalah pencegahan, bukan penyesalan di akhir. 

Ancaman El Nino tidak hanya berhenti pada sektor lingkungan. Gelombang panas di berbagai belahan dunia menunjukkan, krisis iklim telah menjadi krisis kesehatan. Tubuh manusia menjadi rentan terhadap dehidrasi, infeksi, hingga penyakit kronis yang memburuk akibat suhu ekstrem. 

Artinya, kesiapsiagaan harus dimulai dari hal paling dasar: perilaku hidup sehat, akses air bersih, dan kesadaran menjaga diri. Pemerintah daerah telah mendorong berbagai langkah adaptasi, mulai dari edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), program cek kesehatan gratis, hingga penempatan dokter di wilayah pedesaan. 

Namun, kebijakan tidak akan cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat. Tantangan terbesar terletak pada konsistensi: apakah kebiasaan sederhana seperti minum cukup air, mencuci tangan, dan memeriksakan kesehatan akan benar-benar dijalankan, atau kembali diabaikan saat cuaca terasa normal. 

El Nino juga menuntut kewaspadaan pada sektor lingkungan yang lebih luas. Potensi kebakaran lahan dan gangguan pengelolaan sampah menjadi ancaman nyata ketika suhu meningkat dan curah hujan menurun. Tanpa pengawasan ketat dan sistem deteksi dini yang efektif, risiko kecil dapat dengan cepat berubah menjadi bencana besar. 

El Nino seharusnya menjadi momentum evaluasi. Sejauh mana sistem peringatan dini bekerja? Seberapa siap masyarakat menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu? Yang paling penting, apakah krisis iklim masih dipandang sebagai kejadian musiman, bukan realitas jangka panjang? 

Waspada El Nino bukan sekadar seruan formal, tapi ajakan untuk mengubah cara pandang: cuaca ekstrem bukan lagi pengecualian, melainkan bagian dari realitas yang perlu diantisipasi secara berkelanjutan. Jika kesadaran ini tidak tumbuh, siklus yang sama akan terus berulang: terkejut, terdampak, lalu kembali terlupakan. (*)


Editor : Gin gin T Ginulur