Meriahkan HJB 2022, Budayawan 'Ngumbah' Tugu Kujang

Sejumlah budayawan asal Kota Bogor disupport Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor menggelar kegiatan Ngumbah Tugu Kujang

Meriahkan HJB 2022, Budayawan 'Ngumbah' Tugu Kujang
ejumlah budayawan asal Kota Bogor disupport Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor menggelar kegiatan Ngumbah Tugu Kujang atau mencuci Tugu Kujang pada Senin (20/6/2022) siang.
 
INILAHKORAN, Bogor - Sejumlah budayawan asal Kota Bogor disupport Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor menggelar kegiatan Ngumbah Tugu Kujang atau mencuci Tugu Kujang pada Senin (20/6/2022) siang.
 
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) yang jatuh setiap tanggal 3 Juni 2022.
 
Pantauan di lapangan, dalam prosesi Ngumbah Tugu Kujang ini, air yang digunakan disebut air keramat yang diambil dari tujuh sumber mata air yang ada di wilayah Bogor. Diantaranya mata air dari Cidangiang, Cibogor, dan Kahuripan yang berada di Kebun Raya Bogor serta mata air yang ada di kawasan Gunung Salak. Kemudian air disatukan untuk mencuci Tugu Kujang, proses pencampuran air dilakukan beberapa tokoh diantaranya Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim.
 
"Dari tujuh mata air, tiga di antaranya menjadi Tri Tangtu Buana, yaitu Ratu, Rama, Resi lalu disempurnakan dengan air kesucian dari Gunung Salak," ungkap Ketua Pelaksana Babakti Tugu Kujang, Tjetjep Thoriq kepada wartawan di Tugu Kujang pada Senin (20/6/2022) siang.
 
 
Tjetjep Thoriq melanjutkan, Ngumbah Tugu Kujang ini rencananya dilakukan selama enam hari mulai Senin hari ini dengan menggunakan peralatan khusus pemanjat tebing. Adapun, tradisi yang sudah berlangsung sejak lama itu melibatkan anggota pecinta alam.
 
"Tugu Kujang merupakan monumen yang menjadi simbol perlambang Kota Bogor. Bentuknya serupa dengan senjata pusaka asal suku Sunda," tuturnya.
 
Ia menjelaskan, untuk mencuci Tugu Kujang, puluhan orang biasanya dilibatkan. Tim akan memanjat tugu setinggi kurang lebih 25 meter ini. Pencucian Tugu Kujang atau kini dinamakan dengan istilah 'babakti' ini terbagi beberapa bagian. Seperti di tiang, logo Kota Bogor, dan senjata Kujang.
 
 
"Sebelum prosesi 'ngumbah kujang' dimulai, para sesepuh melaksanakan ritual memohon kelancaran kegiatan tersebut. Acara kemudian dilanjut dengan penampilan sejumlah penari," jelasnya.
 
Tjetjep juga mengatakan, pusaka atau senjata kujang sudah ada sejak abad ke-14 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Kerajaan Prabu Siliwangi yang berpusat di Bogor. Senjata Kujang awalnya digunakan sebagai alat pertanian masyarakat suku Sunda pada zaman dulu. 
 
"Kemudian, dijadikan sebagai senjata untuk melawan dan mengusir para penjajah. Karena itu, masyarakat Sunda menjadikan senjata Kujang sebagai benda pusaka. Untuk menghormati sejarah tersebut, Pemerintah Kota Bogor membangun tugu sebagai simbol Kota Bogor," pungkasnya. (Rizki Mauludi)***


Editor : inilahkoran