Modifikasi Cuaca Jadi Upaya Terakhir PJT II Jaga Ketersediaan Air Jatiluhur

Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur kini sedang was-was. Pasalnya, volume air di waduk Ir Djuanda (Jatiluhur) terus mengalami penyusutan pada musim kemarau ini. Bahkan, penyusutannya lebih cepat dari biasanya.

Modifikasi Cuaca Jadi Upaya Terakhir PJT II Jaga Ketersediaan Air Jatiluhur
Foto: Asep Mulyana

INILAH, Purwakarta – Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur kini sedang was-was. Pasalnya, volume air di waduk Ir Djuanda (Jatiluhur) terus mengalami penyusutan pada musim kemarau ini. Bahkan, penyusutannya lebih cepat dari biasanya.

Atas kondisi itu, sebagai pengelola perusahaan BUMN ini seharusnya segera melakukan langkah antisipasi. Apalagi, hal tersebut terkait ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi dan air baku ke wilayah hilir.

Terlebih, dari hasil analisa jajaran PJT II menunjukkan jika cuaca panasnya cukup ekstrem seperti sekarang ini ditambah kalau September nanti tidak turun hujan, maka ketersediaan air di waduk buatan itu hanya bisa bertahan hingga Oktober mendatang.

Direktur Operasi dan Pengembangan PJT II Jatiluhur Antonius Aris Sudjatmiko membenarkan jika penyusutan air Jatiluhur saat ini lebih cepat dari biasanya yakni mencapai 2 cm/jam. Untuk itu, pihaknya harus egera melakukan langkah antisipasi supaya ketersediaan air selama musim kemarau ini tetap terjaga.

“Kalau hingga September nanti tidak ada hujan, kami terpaksa harus segera melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan,” ujar Antonius, Senin (29/7/2019).

Menurutnya, kondisi Waduk Jatiluhur saat ini bisa dikatakan kering. Sebab, saat ini tinggi muka air (TMA) di waduk tersebut sudah berada di bawah angka 100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meski demikian, pihaknya memastikan debit air yang digelontorkan ke wilayah hilir untuk keperluan air baku dan irigasi masih cukup aman.

Dia menjelaskan, setiap musim kemarau beban Waduk Jatiluhur cukup besar. Apalagi, Jatiluhur selama ini menjadi satu-satunya sumber air besar untuk kebutuhan ke wilayah Jakarta, Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu.

Terkait upaya TMC, dia menuturkan perusahannya telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,5 miliar. Menurutnya, upaya tersebut penting dilakukan supaya debit air Jatiluhur bisa tersuplai dari air hujan. Sehingga, ketersediaan air bisa bertambah.

“TMC ini, nanti dilakukan di wilayah hulu Sungai Citarum. Untuk actionnya, nanti kita lihat di September ada hujan atau tidak. Kalau taka da hujan, terpaksa kami akan lakukan modifikasi cuaca,” tambah dia. (Asep Mulyana)


Editor : Doni Ramdhani