Musim Libur Sekolah Tak Membuat Objek Wisata Bandung Selatan Menggeliat

Objek wisata alam Bandung Selatan yang selama ini menjadi salah satu andalan pariwisata di Kabupaten Bandung mengalami penurunan pengunjung yang signifikan. Musim libur sekolah yang biasanya menjadi andalan pun kini tak memberikan nilai tambah yang optimal.

Musim Libur Sekolah Tak Membuat Objek Wisata Bandung Selatan Menggeliat
Penurunan ini terasa di hampir seluruh titik wisata di kawasan Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. (rd dani r nugraha)

INILAHKORAN, Soreang - Objek wisata alam Bandung Selatan yang selama ini menjadi salah satu andalan pariwisata di Kabupaten Bandung mengalami penurunan pengunjung yang signifikan. Musim libur sekolah yang biasanya menjadi andalan pun kini tak memberikan nilai tambah yang optimal.

Penurunan ini terasa di hampir seluruh titik wisata di kawasan Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.

Objek wisata populer seperti eMTe Highland Resort dan Kolam Renang Walini menyatakan jika kunjungan wisatawan ke tempat mereka anjlok 40% sampai 50% dibandingkan libur sekolah tahun sebelumnya. Pengelola destinasi mengaku khawatir terhadap tren tersebut karena berdampak langsung pada kelangsungan usaha mereka.

Pemilik eMTe Highland Resort H Emte mengatakan, angka kunjungan ke tempatnya sangat menurun. Ia menilai kebijakan pemerintah, khususnya larangan kegiatan wisata dari sekolah dan instansi perkantoran, menjadi salah satu penyebab utama turunnya jumlah pengunjung.

“Tingkat kunjungan menurun drastis, hampir 50 persen. Liburan sekolah tahun ini tidak seramai tahun lalu,” kata Emte di Kecamatan Rancabali, Minggu 14 Juli 2025.

Emte berharap,  pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan yang dianggap berdampak terhadap sektor wisata. Menurutnya, pengelola wisata tidak menolak kebijakan, tetapi berharap ada pertimbangan agar sektor ini tetap bergerak.

“Kami tidak menyalahkan kebijakan, tapi perlu ada kelonggaran agar kunjungan bisa kembali normal,” ujarnya.

Penurunan kunjungan tidak hanya terjadi di eMTe Higland saja.  Pemandian Air Panas Ciwalini juga dalam kondisi yang hampir sama. Humas Pemandian Air Panas Ciwalini, Utep Risa, mengatakan, dibandingkan tahun lalu, jumlah wisatawan turun antara 30% hingga 40%.

“Kunjungan hari biasa memang sedikit meningkat, sekitar 5–10 persen. Tapi saat libur sekolah, justru merosot,” katanya.

Utep menilai bahwa berkembangnya kawasan wisata baru di Kecamatan Pangalengan menjadi penyebab terbaginya arus wisatawan. Ia mengakui bahwa wisatawan kini memiliki lebih banyak pilihan, sehingga destinasi lama harus meningkatkan daya saing.

Untuk mempertahankan daya tarik, Ciwalini menghadirkan wahana adventure seperti ATV menyusuri kebun teh sejauh 8–9 kilometer dengan tarif hanya Rp300.000 untuk dua orang. Harga tiket masuk ke Ciwalini juga tergolong terjangkau, yaitu Rp40.000 per orang untuk usia 4 tahun ke atas.

“Situasi menurunnya kunjungan wisatawan menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Pengelola destinasi, pemerintah, dan pelaku usaha perlu bersinergi untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih menarik dan berkelanjutan,” kata Utep.

Senada dengan itu, Camat Rancabali Kan kan Taufik Barnawan mengakui bahwa tren kunjungan ke kawasan objek wisata alam Bandung Selatan, khususnya ke Rancabali menurun. Ia menjelaskan bahwa selain faktor kebijakan, terlalu banyaknya hari libur dalam kalender juga memengaruhi distribusi wisatawan.

“Masyarakat cenderung membagi waktu libur ke beberapa tempat. Ini membuat kunjungan ke satu titik menjadi tidak padat,” katanya.

Meski kunjungan menurun, ia menyampaikan kabar positif. Pendapatan pajak dari sektor pariwisata justru meningkat. Data menunjukkan bahwa pendapatan bulanan naik signifikan dari Rp355 juta menjadi Rp1,1 miliar.

Kenaikan ini terjadi karena kesadaran pelaku usaha dalam membayar pajak semakin tinggi. Keberadaan Satuan Tugas Pajak di wilayah tersebut terbukti mendorong kepatuhan. 

“Satgas pajak cukup efektif. Mereka memotivasi pelaku usaha untuk tertib pajak,” katanya.

Kan kan juga menyoroti rendahnya kontribusi pajak restoran dibanding pajak hiburan. Ia menyimpulkan bahwa wisatawan belum banyak yang mengonsumsi makanan di sekitar tempat wisata. Sebagian besar pengunjung hanya menikmati pemandangan tanpa makan di lokasi.

“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Kita harus mengembangkan kuliner khas Rancabali agar wisatawan tertarik makan di sini,” ujarnya.

Inovasi layanan, lanjut Kan Kan,  penyediaan fasilitas pendukung, serta promosi yang efektif menjadi langkah konkret yang harus segera dilakukan. Pemerintah pun perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap kebijakan yang menyentuh aktivitas wisata.

Jika berbagai pihak mampu bekerja sama dan saling mendukung, maka pariwisata Bandung Selatan bukan hanya pulih, tapi juga tumbuh menjadi destinasi unggulan yang semakin kuat dalam daya saing.

Selain inovasi menu, Kan Kan juga menilai pentingnya perbaikan fasilitas, terutama tempat parkir. Banyak restoran kecil tidak memiliki lahan parkir memadai, sehingga wisatawan kesulitan untuk berhenti lama.


Editor : Doni Ramdhani