Napas Panjang KUD Puspa Mekar, Ketika Kepercayaan Menjadi Modal Utama Bangkit
KUD Puspa Mekar di Parongpong KBB mengalami jatuh bangun sebelum akhirnya bisa bangkit, ini perjalanannya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Suara gemericik air terdengar riuh di halaman kantor Koperasi Unit Desa (KUD) Puspa Mekar. Sejumlah pegawai tampak cekatan melakukan sterilisasi produk sebelum didistribusikan ke berbagai perusahaan besar.
Rutinitas harian tersebut berlangsung di kantor KUD yang berlokasi di Jalan Sersan Bajuri No. Km 07, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Bagi para pekerja, proses ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan komitmen menjaga kualitas dan kebersihan produk hingga ke tangan konsumen.
Keberadaan KUD Puspa Mekar kini menjadi bukti ketangguhan peternak susu setempat. Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersimpan kisah panjang perjuangan, tantangan, dan keberanian untuk bertransformasi.
Kisah ini bermula dari transformasi Koperasi Bunga Cihideung Indah pada tahun 1989 yang diawali langkah kecil bersama 50 anggota pendiri.
"Dulu, peternak lokal hanya bisa menjual hasil susu kepada tengkulak tanpa jaminan harga dan layanan kesehatan hewan yang memadai," ujar Ketua KUD Puspa Mekar, Djatnika (59), saat ditemui di kantornya, Kamis (23/7/2026).
Menurut Djatnika, keinginan mandiri dan melindungi mata pencaharian warga menjadi pijakan awal berdirinya koperasi, meski perjalanan yang dilalui penuh rintangan.
Pada masa keemasannya, KUD Puspa Mekar sempat mencatatkan produksi hingga 30–40 ton susu per hari. Namun, pertumbuhan pesat itu menyimpan kelemahan sistemik. Struktur organisasi yang berbasis kelompok membuat koperasi rentan saat persaingan memanas dan kendali mutu melemah.
"Satu per satu kelompok besar anggota pindah ke pesaing. Penolakan pasar pun terjadi akibat kualitas yang tidak konsisten. Akhirnya, koperasi terpuruk hingga produksi anjlok menjadi 2 ton per hari dengan beban utang yang mencekik," tuturnya.
Bangkit dan Membangun Sistem Baru
Titik terendah itu justru mendorong pengurus melakukan perubahan besar. Di tengah tekanan utang, kehilangan aset, dan persaingan ketat, Djatnika beserta jajaran pengurus mengambil langkah strategis pada tahun 2006.
Bekerja sama dengan GKSI dan KPSBU Lembang, sistem perantara kelompok dihapus total dan diganti dengan pelayanan langsung kepada setiap anggota.
“Ini jalan yang lambat, namun kokoh,” kata Djatnika.
Perubahan ke sistem pelayanan langsung dan jemput bola ini membangun disiplin kerja serta hubungan saling percaya yang lebih transparan. Pengelolaan kualitas menjadi hal mutlak, karyawan bertanggung jawab penuh kepada manajemen, dan setiap peternak mendapat pembinaan langsung.
Tantangan berikutnya hadir saat koperasi bertekad berdiri mandiri secara penuh pada 1 November 2013. Terbatasnya akses permodalan dan ketiadaan catatan keuangan yang mandiri menjadi kendala utama.
Di masa kritis tersebut, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (bank bjb) hadir memberikan solusi. bank bjb melihat potensi serta integritas yang dibangun koperasi, bukan sekadar kelengkapan dokumen formal semata.
Dukungan Modal dan Penanganan Krisis
Karena KUD Puspa Mekar belum memenuhi persyaratan administrasi perbankan saat itu, bank bjb memberikan fasilitas kredit kepada pengurus untuk memperkuat modal kerja koperasi dengan jangka waktu pengembalian yang fleksibel.
Kepercayaan tersebut dibayar tuntas. Fasilitas kredit tersebut dinyatakan lunas pada tahun 2023 dan membuka jalan bagi kemitraan yang lebih luas.
Ujian kembali datang saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda pada tahun 2022. Produksi susu merosot drastis dari 15 ton menjadi 8 ton per hari. Dalam situasi krisis ini, dukungan permodal berlanjut melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memulihkan populasi ternak dan menjaga arus kas koperasi di tengah tingginya biaya penanganan wabah.
“Berkat dukungan keuangan yang stabil dan bimbingan manajerial, kami mampu bangkit hingga kini memproduksi 12 hingga 13 ton susu per hari,” ungkap Djatnika.
Ke depan, Djatnika berharap sinergi dengan bjb tidak hanya terbatas pada pemasaran bahan baku, tetapi juga meluas ke pengembangan industri pengolahan susu lokal, penciptaan produk bermerek sendiri, serta penguatan kapasitas SDM melalui unit pembinaan UMKM.
Editor : Ahmad Sayuti

