Nasib Trusmi Kini, PKL Semrawut hingga Industri Batik Tertekan
Kawasan Batik Trusmi hingga kini masih belum tertata tuntas, selain produksi batik melemah banyaknya PKL jadi pemandangan miris di kawasan tersebut
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Sentra Batik Trusmi, Kabupaten Cirebon, masih menghadapi sejumlah persoalan. Penataan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Jalan Fatahillah belum sepenuhnya tuntas, sementara industri batik lokal menghadapi tekanan akibat menurunnya penjualan, berkurangnya perajin hingga serbuan produk tekstil bermotif batik produksi massal.
Persoalan PKL mencuat pada September 2026. Paguyuban Pedagang Weru Kidul meminta Satpol PP Kabupaten Cirebon menertibkan pedagang yang masih berjualan di trotoar Jalan Fatahillah.
Desakan tersebut muncul setelah sebagian PKL mengikuti kebijakan relokasi ke Jalan Pengayoman dan sekitar Masjid Al Mustaqim. Pedagang yang telah berpindah menilai penataan harus dilakukan secara konsisten agar tidak menimbulkan ketimpangan dengan PKL yang masih bertahan di trotoar.
Camat Weru, Abdul Roup, menilai diperlukan tindakan tegas terhadap pedagang yang belum mengikuti kebijakan penataan.
“Harus ada tindakan yang tegas. Saya juga sudah mengingatkan para pedagang dan mereka sudah patuh, bahkan sudah sampai satu bulan ini berjualan di dalam,” kata Abdul Roup, Senin (5/10/2026).
Namun, penanganan PKL di Jalan Fatahillah tidak sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Kabupaten Cirebon.
Kepala Seksi Operasional, Pengendalian dan Kerja Sama Satpol PP Kabupaten Cirebon, Wisma Wijaya, mengatakan penertiban perlu dikoordinasikan dengan Satpol PP Jawa Barat karena ruas Jalan Fatahillah merupakan aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Sebelum penataan lanjutan dilakukan, pemerintah juga akan melakukan pendataan pedagang bersama pihak kecamatan dan pemerintah desa," ungkap Wisma.
Persoalan di kawasan Trusmi tidak hanya menyangkut penataan ruang publik. Industri batik yang menjadi identitas kawasan tersebut juga menghadapi tantangan serius.
Pengrajin Batik Cirebon, Hisyam Suleiman, mengungkapkan penjualan batik mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir.
Dia menilai, Industri batik lokal juga menghadapi persoalan semakin terbatasnya jumlah perajin serta meningkatnya biaya produksi. Di saat bersamaan, produk tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal dapat dipasarkan dengan harga lebih murah sehingga menambah tekanan terhadap produk perajin lokal.
Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon menyatakan upaya menjaga keberlangsungan batik dilakukan melalui pelestarian, pemanfaatan, pengembangan dan pembinaan.
Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Kabupaten Cirebon, Iman Hermanto, mengatakan Batik Trusmi bersama Batik Ciwaringin merupakan bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Cirebon yang perlu terus dijaga.
“Di bidang kebudayaan itu sendiri, kita secara rutin mengenalkan pelestarian, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan, salah satunya batik sebagai salah satu unsur kebudayaan yang ada di Kabupaten Cirebon,” kata Iman.
Disbudpar juga mendorong pengenalan motif Batik Trusmi dan Ciwaringin kepada generasi muda, termasuk memberikan edukasi mengenai proses pembuatan batik.
"Berbagai persoalan tersebut menunjukkan pengembangan Sentra Batik Trusmi tidak cukup hanya mengandalkan promosi sebagai destinasi wisata dan pusat belanja batik," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

