Nelangsa dan Ikhtiar Dedeh dan Endang Tanam Bayam di Tepian Citarum
Bagi pasangan petani penggarap itu, menanam bayam bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara bertahan hidup yang telah mereka jalani bertahun-tahun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Mentari pagi baru menghangatkan bantaran Sungai Citarum di Kampung Mahmud, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.
Di hamparan lahan hijau seluas sekitar 10 tumbak, Dedeh Rodiah (56) bersama sang suami, Endang Ramdan (60), sudah lebih dulu memulai aktivitas mereka.
Bagi pasangan petani penggarap itu, menanam bayam bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara bertahan hidup yang telah mereka jalani bertahun-tahun. Namun, di balik hijaunya daun-daun bayam yang siap dipanen, tersimpan perjuangan panjang menghadapi mahalnya biaya produksi pertanian.
Mulai dari harga bibit, pupuk hingga obat-obatan pertanian terus merangkak naik. Kondisi itu memaksa Dedeh mencari jalan lain agar tetap bisa menanam.
"Kalau beli bibit bayam di toko pertanian itu mahal, sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per cangkir. Karena enggak sanggup, kami membuat bibit sendiri," kata Dedeh kepada INILAHKORAN.ID, Minggu (12/7/2026).
Membuat bibit sendiri ternyata bukan perkara mudah. Dedeh harus menyisihkan sebagian tanaman bayam untuk dibiarkan tumbuh hingga berbunga selama sekitar satu bulan. Setelah itu, biji-biji kecil yang menempel di putik bunga dipisahkan secara manual dengan diremas menggunakan tangan.
Pekerjaan itu membutuhkan kesabaran. Biji yang telah dipisahkan kemudian harus dijemur sekitar satu bulan hingga benar-benar kering dan siap ditanam kembali.
"Kalau terus mendung atau enggak ada matahari, bijinya bisa busuk. Memang lebih praktis beli di toko, tapi karena enggak ada uang, ya kami buat sendiri," ujarnya.
Perjuangan panjang itu sayangnya belum sebanding dengan hasil yang diterima. Setelah masa tanam sekitar 30 hari, bayam hasil panennya hanya dihargai sekitar Rp30 ribu per 100 ikat.
Dari lahan seluas 10 tumbak, Dedeh dan suaminya mampu menghasilkan sekitar 1.000 ikat bayam setiap kali panen. Nilainya memang terlihat cukup besar, tetapi sebagian besar kembali habis untuk biaya produksi.
"Kalau harus bayar orang buat mencangkul, sudah enggak kebagian apa-apa. Makanya saya sama suami mencangkul sendiri supaya ada sedikit sisa buat kebutuhan sehari-hari,"katanya.
Tak hanya bibit, pupuk dan pestisida yang harus dibeli. Dedeh juga harus mengeluarkan biaya listrik untuk mengoperasikan pompa air yang menyedot air Sungai Citarum sebagai sumber irigasi tanaman.
Pada musim kemarau, pompa air hampir setiap hari digunakan agar bayam tidak layu. Tagihan listrik pun menjadi beban tambahan yang tak bisa dihindari.
"Kalau musim hujan lebih ringan karena enggak perlu sering pakai pompa air. Jadi biaya listrik juga berkurang," katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan, Dedeh dan Endang tetap memilih bertahan menjadi petani. Mereka percaya, selama masih ada lahan yang bisa ditanami dan tenaga yang masih kuat bekerja, harapan untuk menyambung hidup akan selalu ada.
Di balik setiap ikat bayam yang dijual murah di pasar, tersimpan kisah tentang ketekunan, penghematan, dan kerja keras pasangan petani yang terus berjuang menjaga dapur tetap mengepul di tepian Sungai Citarum.
Editor : Doni Ramdhani

