INILAH, Cianjur - Tertangkap tangannya Irvan Rivano Muchtar diyakini akan menyudahi dinasti politik keluarga Tjetjep Muchtar Soleh di Kabupaten Cianjur. Bola kini ada di tangan Herman Suherman.
Keluarga besar Tjetjep Muchtar Soleh memimpin Cianjur memasuki periode ketiga. Tjetjep, mantan politisi Partai Demokrat yang menyeberang ke Partai Nasdem, dua periode lamanya memimpin Cianjur.
Tak lagi bisa maju, anggota keluarga ini, yakni Irvan Rivano Muchtar, didapuk melanjutkan kepemimpinan Tjetjep. Irvan tetap maju meski Partai Golkar, parpol yang menaunginya saat itu, tak mengusungnya. Irvan maju antara lain didorong oleh Partai Demokrat.
Dengan cerdik, mereka mengajak Herman Suherman sebagai calon wakil bupati. Herman saat itu dinilai cukup sukses memimpin PDAM Cianjur dan sudah mulai melakukan sosialisasi, antara lain dengan memasang baliho di jalur penting menuju kawasan Puncak.
Pasangan ini pun kemudian terpilih. Sebagian masyarakat Cianjur, terutama lawan politik mereka, menyebut terpilihnya Irvan memimpin Cianjur sebagai bentuk melanggengkan politik dinasti di Cianjur.
Kini, semuanya berantakan setelah KPK melakukan operasi. Mereka menangkap basah Irvan, mantan anggota DPRD Jawa Barat itu, terkait dugaan kasus korupsi pemotongan Dana Alokasi Khusus (DAK) di Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.
Tak sendirian, Irvan dijadikan tersangka bersama Kepala Dinas Pendidikan Cecep Sobandi dan Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan, Rosidin. Tak hanya itu, ipar Irvan, yaki Tubagus Cepy Septiadhy juga dijadikan tersangka.
"Setelah mendapatkan informasi dari masyarakat dan melakukan penyelidikan sejak 30 Agustus 2018, KPK menemukan sejumlah petunjuk dan bukti awal hingga melakukan kegiatan tangkap tangan pada Rabu subuh di beberapa lokasi di Kabupaten Cianjur," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu.
Terjaring OTT-nya Irvan, diyakini publik akan memutus mata rantai dinasti Tjetjep Muchtar Soleh. Reputasi keluarga ini diyakini akan tercoreng sehingga masyarakat Cianjur akan berpikir berkali-kali jika ada yang berniat maju pada kontestasi demokrasi. Tak hanya itu, OTT KPK terhadap Irvan juga bisa berpengaruh pencalonan Tjetjep Muchtar Soleh sebagai anggota DPR RI dari Partai Nasdem.
Dalam posisi seperti ini, kepemimpinan Cianjur ke depan bisa saja banyak ditentukan langkah politik Herman Suherman. Satu hal yang pasti, dia akan melanjutkan kepemimpinan Irvan hingga masa jabatan berakhir.
Setelah itu. Herman yang dikenal dekat dengan masyarakat Cianjur, memiliki peluang untuk maju kembali sebagai calon bupati pada pilkada berikutnya dengan modal yang kuat. Modal kedekatan dengan masyarakat, modal sebagai petahana, dan yang sudah kadung diketahui masyarakat Cianjur juga modal finansial yang kuat. (*)