Pandemi Corona, Masyarakat Kecil Mulai Rasakan Dampak Ekonomi
Masyarakat kecil beragam profesi termasuk para pedagang di pasar-pasar tradisional mulai merasakan kesulitan ekonomi sebagai dampak merebaknya pandemi virus corona.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Garut- Masyarakat kecil beragam profesi termasuk para pedagang di pasar-pasar tradisional mulai merasakan kesulitan ekonomi sebagai dampak merebaknya pandemi virus corona.
Transaksi jual beli di sana sini menyepi, bahkan beberapa warung terpaksa tutup karena nyaris tak ada pembeli. Para pedagang biasa berjualan di lingkungan sekolah atau kampus perguruan tinggi pun kelabakan mencari pembeli. Begitu juga awak angkutan penumpang umum termasuk tukang ojek hanya bisa pasrah akan sepinya penumpang menggunakan jasa mereka.
Gejala menurunnya daya beli mereka bahkan sudah terasa sejak kebijakan pengetatan terhadap berbagai aktivitas sosial berupa kerumunan termasuk peliburan anak sekolah diterapkan sepekan lalu.
Kendati secara umum mereka mendukung langkah pencegahan penyebaran virus yang menakutkan itu, kekhawatiran mereka terhadap kehilangan pendapatan untuk pemenuhan hidup sehari-hari pun terus menghantui.
"Biasanya, dalam sehari, saya bisa menghabiskan lima kilogram beras untuk jualan. Tetapi sejak merebak virus corona ini, saya hanya bisa menyediakan tiga kilogram. Itu juga masih tersisa banyak. Pembelinya sekarang makin sepi," kata Syifa (30) salah seorang pedagang nasi kuning biasa mangkal di Jalan Ciledug Garut Kota diamini saudaranya Aji (48), Minggu (22/3/2020).
Senada dikemukakan Didin (46) warga Sukagalih Kecamatan Tarogong Kidul yang biasa berjualan kopi dan mie rebus di lingkungan perkantoran Pemkab Garut.
"Mau bagaimana lagi, kondisinya sudah seperti ini ? Apalagi pegawai pemda kan diliburkan, kerja di rumah. Kantin Bu Alit bahkan tutup. Kalaupun buka, siapa yang akan beli. Hampir semuanya libur, kecuali yang piket," ujarnya.
Kondisi para pedagang di pasar-pasar tradisional pun merasakan situasi sama. Transaksi perdagangan mereka semakin sepi dari biasanya.
Menurut Ketua Ikatan Warga Pasar (IWAPA) Cikajang Agus Fajar Tura, hampir sebesar 40 persen terjadi penurunan penghasilan di kalangan pedagang pasar tradisional. Baik pedagang sayuran, sembako, maupun buah-buahan.
"Bahkan ada pedagang yang satu hari sama sekali tidak ada pembelinya. Masyarakat sangat merasakan betapa tak seimbangnya tingkat pendapatan dengan tingkat pengeluaran sekarang ini. Pengeluaran jauh lebih tinggi daripada pemasukan," ujarnya.
Agus menyebutkan, kondisi seperti itu terutama berlangsung sejak keluar edaran Bupati Garut tentang pencegahan Covid-19 yang salah satunya melarang adanya kerumunan.
"Seharusnya Pemkab Garut mencarikan solusi atas kondisi seperti ini. Bukan hanya bisa melarang ada kerumunan. Pasar kan merupakan salah satu pusat berkerumunnya pembeli dan pedagang," ujar Agus.
Senada dikemukakan pedagang Pasar Guntur Ciawitali Garut Dedi (74). Dia mengatakan, antara pedagang bahkan mesti berbagi komoditas sayuran yang hendak dijualnya karena kelangkaan stok.
"Kita biasanya dapat wortel sampai 50 kilogram untuk dijual, tapi sekarang paling sekitar 10-20 kilogram. Harganya juga naik. Yang melonjak harga jahe dari semula Rp25 ribu per kilogram, saat ini mencapai Rp50 ribu per kilogram," ujarnya.
Selain pedagang, para petani sayuran pun kini kesulitan mendapatkan pesanan untuk dikirim ke kota-kota besar, terutama Jakarta, seperti sebelumnya.(zainulmukhtar)
Editor : Bsafaat

