Para Ketua Poktan di Kecamatan Pacet Menolak Pipanisasi Air Sungai Citarum oleh Perumda Tirta Raharja

Ratusan masyarakat yang terdiri dari para ketua kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, menggelar aksi unjuk rasa di Kampung Cilandak Desa Cipeujeuh. Mereka menolak pembangunan pipanisasi air Sungai Citarum yang dilakukan oleh Perumda Air Minum Tirta Raharja milik Pemerintah Kabupaten Bandung.

Para Ketua Poktan di Kecamatan Pacet Menolak Pipanisasi Air Sungai Citarum oleh Perumda Tirta Raharja

INILAHKORAN,Soreang - Ratusan masyarakat yang terdiri dari para ketua kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, menggelar aksi unjuk rasa di Kampung Cilandak Desa Cipeujeuh. Mereka menolak pembangunan pipanisasi air Sungai citarum yang dilakukan oleh Perumda Air Minum Tirta Raharja milik Pemerintah Kabupaten Bandung.

Aksi penolakan pembangunan atau pipanisasi air dari Sungai citarum tersebut dilakukan warga karena mengancam ribuan hektar lahan pertanian pesawahan yang berada dibeberapa kecamatan yang dilalui oleh aliran air Sungai citarum. Padahal, selama ini ribuan hektar pesawahan dari mulai Kecamatan Pacet, Ciparay, Majalaya, Bojongsoang hingga Solokanjeruk itu sangat mengandalkan air dari sungai tersebut.

"Tentu kami khawatir kalau airnya dibypass pakai pipa lah pesawahan yang selama ini mengandalkan air dari citarum mau dari mana lagi airnya. Ada yang bilang air di citarum itu melimpah sampai menyebabkan banjir, itu benar kalau musim hujan. Nah kalau musim kemarau kan airnya menyusut drastis, lalu lahan pertanian kami airnya dari mana," kata salah seorang ketua Poktan yang juga tokoh masyarakat Desa Maruyung Kecamatan Pacet, Heri Gunara disela aksi, Senin 23 Juni 2025.

Menurut Heri, pembangunan atau pipaninsasi air dari Sungai citarum oleh Perumda Air Minum Tirta Raharja itu membuat khawatir para pemilik lahan pertanian yang selama ini mengandalkan air dari Sungai citarum. Dan sayangnya, sampai dengan hari ini pihak Perumda Tirta Raharja belum memberikan penjelasan apapun kepada masyarakat terkait proyek tersebut.

"Ini tentu bertentangan dengan program prioritas pak Presiden Prabowo soal ketahanan pangan. Mau tahan pangan bagaimana, air untuk lahan pertaniannya saja diganggu," ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Heri, ia dan warga lainnya tidak menolak atau anti pembangunan. Namun sebaiknya, pembangunan itu dilakukan dengan tidak mengabaikan berbagai persoalan yang bisa muncul dikemudian hari. Termasuk  konflik sosial yang bisa terjadi dimasyarakat gara-gara urusan air.

"Jangankan sudah ada pipaninasi, selama ini saja masih sering kejadian ada petani berkelahi rebutan air. Bahkan sampai ada korban jiwa. Nah seharusnya dipikirkan juga dong nasib kami para petani. Selain itu, kami juga belum melihat atau belum tahu apakah proyek ini sudah mengantongi izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) atau tidak. Karena selama juga sosialisasi dilakukan oleh pemilik proyek itu hanya kepada aparat pemerintah desa dan orang-orang tertentu saja," katanya.

Berdasarkan informasi yang ia terima, lanjut Heri, pipaninasi air dari Sungai citarum yang dimulai di Desa Maruyung Kecamatan Pacet itu, telah berjalan selama kurang lebih dua pekan. Rencananya, Perumda Air Minum Tirta Raharja itu mengambil air dari Sungai citarum sebagai air baku untuk memasok kebutuhan air bersih untuk wilayah Bandung Timur. Termasuk untuk memasok kebutuhan air bersih untuk beberapa perumahan elit yang ada dikawasan Kecamatan Bojongsoang.

"Katanya sih itu proyek Kementerian yang didanai dari duit pinjaman dari Asian Development Bank (ADB). Kemudian yang melaksanakannya Perumda Air Minum Tirta Raharja milik Pemkab Bandung. Saya jadi heran ajah yah, kok bisa Pemerintah Kabupaten Bandung mengabaikan kebaradaan kami para petani dengan ribuan hektar sawah demi kepentingan bisnis air saja," katanya.(rd dani r nugraha)


Editor : Ahmad Sayuti