BMKG Peringatkan El Nino Masuk Kategori Kuat, Musim Kemarau Berpotensi Lebih Lama

BMKG menyatakan El Nino 2026 masuk kategori kuat dan memicu musim kemarau lebih kering. Cek wilayah terdampak dan perkiraan awal musim hujan di sini!

BMKG Peringatkan El Nino Masuk Kategori Kuat, Musim Kemarau Berpotensi Lebih Lama
Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal I 2027 sehingga berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. ANTARA

INILAHKORAN.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan fenomena El Nino 2026 telah mencapai kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. 

Kondisi ini berisiko memicu musim kemarau yang jauh lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 periode Mei–Juli 2026, indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) Indonesia telah menyentuh angka +1,59.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat. Data periode Mei, Juni, dan Juli menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," terang Teuku dalam Dialog Nasional di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Selasa (4/8/2026).

Prediksi Puncak kemarau dan Jadwal awal musim hujan 2026

BMKG memproyeksikan curah hujan pada Agustus hingga September 2026 akan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.

Meskipun fenomena El Nino diperkirakan bertahan selama 9 hingga 12 bulan (hingga Mei 2027), hal itu bukan berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.

Puncak kemarau diprediksi terjadi pada  Agustus – September 2026, sedangkan awal musim penghujan bakal terjadi pada pertengahan Oktober 2026.

Begitu musim hujan dimulai pada Oktober, pengaruh El Nino terhadap penurunan curah hujan di Indonesia akan berangsur melemah secara signifikan.

BMKG menegaskan dampak El Nino tidak dirasakan merata di seluruh wilayah Indonesia karena perbedaan pola iklim lokal:

Adapun wilayah terdampak  kemarau ekstrem akan dirasakan di Bali, NTB, NTT,dan Sumatera bagian selatan.  Sementara wilayah dengan hujan stabil terjadi di daerah 
Kalimantan bagian utara. 

Fenomena El Nino berpotensi memberi dampak luas pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, irigasi waduk, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), energi, hingga kesehatan masyarakat.

Guna meminimalkan dampak buruk tersebut, BMKG bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait telah menggalakkan langkah mitigasi, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini difokuskan untuk mengisi bendungan yang mengalami penurunan volume air serta membasahi wilayah rawan karhutla.


Editor : Ahmad Sayuti