Kemarau Melanda, DSDA Jabar Ungkap Irigasi di Daerah Mulai Kekurangan Air
Puncak musim kemarau sudah dekat, beberap irigasi di daerah sudah mulai kekerungan air
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ancaman kekeringan mulai membayangi sejumlah lahan pertanian di Jawa Barat, seiring berkurangnya pasokan air akibat musim kemarau.
Debit air di beberapa bendung yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan, sehingga distribusi ke jaringan irigasi ikut terdampak.
Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Jawa Barat mencatat, sejumlah daerah irigasi mulai mengalami keterbatasan suplai air. Meski belum sampai menyebabkan kekeringan total, kondisi tersebut membuat pengaturan aliran air ke persawahan harus dilakukan secara lebih ketat.
Kepala DSDA Jawa Barat Dikky Achmad Sidik mengatakan, penurunan debit air terjadi di beberapa bendung yang menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian masyarakat.
"Beberapa daerah irigasi yang kekeringan ditemukan di Leuwikuya, Soreang Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk dan Padawaras, Tasikmalaya," ujar Dikky, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, istilah kekeringan pada sejumlah daerah irigasi tersebut bukan berarti saluran air berhenti mengalir sepenuhnya. Pasokan air masih tersedia, namun volumenya mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal.
Menurutnya, situasi tersebut belum berdampak terhadap potensi gagal panen. Sebab, sebagian petani di wilayah terdampak telah memasuki fase panen sehingga kebutuhan air untuk tanaman mulai berkurang.
"Biasanya masih ada debit kang ga sampai kering. Ada sebagian sudah masuk masa panen jadi kebutuhan nya kecil dan terpenuhi," ucapnya.
Kendati demikian, DSDA Jabar memastikan penurunan debit bendung telah berpengaruh terhadap pola distribusi air irigasi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini melakukan pemantauan di sejumlah titik yang mengalami penurunan pasokan air, untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian.
"Betul (berdampak) jadi ada pengaturan air irigasi sawah-sawah. Kalau dibilang kemarau panjang masih sama seperti kemarau biasa. Kalau kemarau panjang biasa nya sampai November belum hujan," katanya.
Pemprov Jabar juga tengah melakukan berbagai upaya, agar kebutuhan air bagi sektor pertanian tetap terpenuhi, terutama untuk menjaga keberhasilan panen yang sedang berlangsung serta memastikan masa tanam berikutnya berjalan sesuai jadwal.
Dikky menyebut, tingkat penurunan debit air di masing-masing bendung tidak sama. Namun, hingga saat ini belum ada bendung yang mengalami kekeringan secara menyeluruh.
"Kita masih ngejar supaya panen tidak terganggu. Kalau pengurangan bervariasi. Ada yang kurang 10 persen ada 20 persen dari debit kebutuhan areal irigasi," tuturnya.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, DSDA Jabar terus mengawasi ketersediaan air di seluruh jaringan irigasi agar dampak penurunan debit tidak meluas dan mengganggu ketahanan pangan daerah.
Editor : Ahmad Sayuti


