Kebakaran Lahan di Bandung Melonjak 600 Persen Selama Musim Kemarau
Kebakaran lahan terbuka di Kota Bandung melonjak 600 persen pada Juli 2026. Diskarmatan memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - kebakaran lahan terbuka di Kota Bandung, melonjak tajam selama musim kemarau. Dinas Pemadam kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) mencatat, kasus kebakaran lahan, alang-alang, tumpukan sampah dan ruang terbuka hijau meningkat hingga 600 persen pada Juli 2026.
Kepala Bidang Pencegahan Diskarmatan Kota Bandung, Adhli Al Afwan Izwari mengatakan, lonjakan itu terlihat dari perbandingan kasus pada Juni dan Juli 2026. Pada Juni, hanya tercatat empat kejadian kebakaran dengan kategori lahan terbuka dan vegetasi.
"Kalau dirinci penyebabnya, dari 54 kejadian di bulan Juli. Sebanyak 28 kasus atau sekitar 50 persen adalah kebakaran di lahan alang-alang, tumpukan sampah atau ruang terbuka hijau," kata Adhli Al Afwan Izwari, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, jumlah itu meningkat signifikan dibandingkan Juni yang hanya mencatat empat kejadian pada kategori serupa. Dengan perbandingan itu, kebakaran lahan terbuka dan alang-alang mengalami lonjakan hingga 600 persen dalam satu bulan.
"Sedangkan di bulan Juni, kasus serupa hanya ada empat kejadian. Artinya, kasus kebakaran alang-alang atau lahan kosong naik hingga 600 persen," ucapnya.
Lonjakan kebakaran lahan, juga berkontribusi pada peningkatan total kejadian kebakaran di Kota Bandung. Pada Juni tercatat 28 kejadian, sedangkan pada Juli jumlahnya naik menjadi 54 kejadian atau meningkat sekitar 108 persen.
"Secara umum, kejadian kebakaran di musim kemarau naik hingga 100 persen dibanding biasa. Khusus kasus lahan terbuka atau alang-alang, kenaikannya paling tajam hingga 600 persen," ujar dia.
Dia menjelaskan, kondisi musim kemarau membuat lahan dan vegetasi menjadi lebih kering. Kondisi itu membuat material yang mudah terbakar lebih cepat menyala, dan api berpotensi menyebar dalam waktu singkat terutama di area terbuka.
Menghadapi kondisi itu, Diskarmatan akan memperkuat pencegahan sebelum musim kemarau berlangsung. Edukasi serta kesiapsiagaan bersama relawan dan masyarakat, akan dilakukan lebih awal. "Ke depannya, hal ini akan kami jadikan agenda rutin. Hadir lebih awal sebelum musim kemarau datang," tuturnya.
Adhli mencontohkan jika musim kemarau biasanya mulai berlangsung sekitar Juni, persiapan ideal sudah dilakukan sejak April. Langkah itu mencakup edukasi, dan peningkatan kesiapsiagaan warga di kawasan yang memiliki lahan terbuka serta vegetasi yang mudah terbakar.
Selain pencegahan, kesiapan masyarakat saat api pertama kali muncul juga menjadi perhatian. Lima menit awal setelah kebakaran terjadi, sebagai waktu yang sangat menentukan agar api tidak berkembang menjadi lebih besar.
"Lima menit pertama saat kebakaran, adalah waktu emas atau golden time. Jika penanganan awal tidak ada, api akan cepat meluas. Oleh karena itu, masyarakat harus siap siaga," tandas dia.
Editor : Ahmad Sayuti

