Kemarau Panjang Tekan Produksi Perikanan Bandung Barat Hingga 902 Ton
Kemarau panjang berimbas pada menurunnya produksi ikan di Bandung Barat hingga 902 ton
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Tekanan iklim akibat musim kemarau panjang yang tengah berlangsung mulai berdampak nyata pada ketahanan produksi sektor perikanan di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Salah satunya ketersediaan air yang terus menyusut drastis memaksa penurunan skala usaha dan hasil panen baik di sistem keramba jaring apung (KJA) Waduk Saguling dan Cirata maupun budidaya kolam air tenang di darat.
Data resmi dari Dinas perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB mencatat penurunan produksi yang tajam namun terukur secara tahunan. Pada triwulan I tahun 2025, hasil panen ikan dari keramba jaring apung masih mencapai 9.922 ton.
Namun, pada periode yang sama di tahun 2026, angka tersebut tercatat merosot menjadi 9.020 ton. Secara absolut, berkurang sebanyak 902 ton, atau turun sekitar 9,1 persen dalam satu tahun.
Kondisi yang lebih tertekan justru dialami oleh pembudidaya ikan dengan sistem kolam air tenang yang sangat bergantung pada pasokan air tanah maupun aliran sungai lokal.
Catatan statistik menunjukkan produksi anjlok dari 1.550 ton (Triwulan I 2025) menjadi 1.290 ton pada periode yang sama 2026. Penurunan ini mencapai 260 ton atau setara dengan 16,8 persen—lebih besar dibandingkan sistem keramba di waduk besar.
Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti memaparkan analisis kritis terkait keterkaitan langsung antara ketersediaan air dengan kelangsungan usaha para pembudidaya.
Menurutnya, kemarau panjang menyusutkan debit air di sejumlah sumber vital, seperti sungai, kolam, hingga volume air di waduk. Hal ini secara otomatis membatasi ruang dan kapasitas tempat budidaya.
“Kalau ketersediaan air terus menurun, otomatis ruang untuk kegiatan budidaya juga terbatas. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya,” kata Wiwin, Selasa (15/9/2026).
Wiwin menjelaskan, dampak kekeringan tidak hanya mengurangi kedalaman atau luasan air, tetapi juga membatasi jumlah populasi ikan yang aman dipelihara tanpa risiko stres lingkungan.
“Dampaknya bukan hanya pada luas atau volume tempat budidayanya, tetapi juga pada jumlah ikan yang bisa dipelihara. Karena itu, hasil produksi dan panennya ikut terdampak,” ujarnya menegaskan mekanisme penurunan produksi tersebut.
Secara umum, Wiwin memperkirakan rentang penurunan produksi ikan di seluruh wilayah KBB berada di kisaran 10 hingga 20 persen. Namun, angka ini tidak seragam karena sangat bergantung pada kondisi geografis dan ketersediaan sumber air di masing-masing lokasi budidaya.
“Secara umum penurunannya sekitar 10 sampai 20 persen. Tetapi tentu setiap lokasi bisa berbeda, karena sangat bergantung pada kondisi air dan pola budidayanya,” jelasnya.
Wiwin mengingatkan, air merupakan faktor penentu keberlangsungan hidup sektor ini. Di tengah potensi kemarau yang masih berkepanjangan, pihaknya mengimbau para pembudidaya untuk realistis dan adaptif.
Ia menyebut, kapasitas produksi wajib disesuaikan dengan kemampuan pasokan air yang tersedia agar tidak merugi dan menjaga kelestarian lingkungan.
“Air sangat menentukan keberlangsungan budidaya ikan. Ketika debitnya berkurang, pembudidaya tentu harus menyesuaikan kegiatan dan kapasitas produksinya,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

