Kemarau Tekan Produksi Perikanan KBB, Hasil Budidaya Turun hingga 16,8 Persen

Musim kemarau menekan produksi perikanan KBB. Produksi KJA turun 9,1 persen dan kolam air tenang turun 16,8 persen sepanjang Triwulan I 2026.

Kemarau Tekan Produksi Perikanan KBB, Hasil Budidaya Turun hingga 16,8 Persen
Kondisi kolam budidaya ikan di Kabupaten Bandung Barat yang terdampak penurunan debit air akibat musim kemarau panjang, Senin (10/9/2026). Agus Satia Negara

INILAHKORAN.ID - Musim kemarau yang berlangsung lebih lama mulai menekan produksi perikanan di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.

Berkurangnya ketersediaan air di sejumlah sumber utama menjadi kendala serius bagi pembudidaya ikan. Kondisi tersebut mengancam kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan sekaligus membatasi luas lahan budidaya yang dapat dioperasikan secara maksimal.

Data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB menunjukkan adanya penurunan kinerja produksi perikanan secara tahunan pada periode Triwulan I 2026.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan KBB Wiwin Aprianti mengatakan, produksi ikan melalui budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) mengalami penurunan 902 ton atau sekitar 9,1 persen.

"Untuk budidaya menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA), tercatat penurunan sekitar 902 ton atau 9,1 persen, dari 9.922 ton pada tahun 2025 menjadi 9.020 ton di tahun 2026," kata Wiwin, Kamis (10/9/2026).

Penurunan lebih tajam terjadi pada budidaya menggunakan sistem kolam air tenang. Produksinya menyusut 260 ton atau sekitar 16,8 persen, dari 1.550 ton pada 2025 menjadi 1.290 ton pada 2026.

"Secara keseluruhan, dampak kekeringan ini diperkirakan memangkas hasil panen wilayah antara 10 hingga 20 persen," sebutnya.

Wiwin menjelaskan, keterbatasan debit air sungai, waduk, dan kolam secara langsung mengurangi volume serta luas lahan efektif untuk budidaya ikan.

Kondisi tersebut turut mengganggu siklus pertumbuhan ikan dan menurunkan produktivitas perikanan secara menyeluruh, baik pada lahan budidaya maupun perairan umum.

"Kami terus memantau kondisi sumber air dan aktivitas warga secara berkala untuk mengantisipasi dampak yang mungkin memburuk seiring berlanjutnya musim kemarau ini," jelasnya.


Editor : Ahmad Sayuti