Pelatihan Pemulasaran Jenazah Jadi Wujud Kepedulian dan Ibadah Sosial

Keterampilan memandikan, mengafani, hingga memakamkan jenazah bukan sekadar urusan teknis semata, melainkan wujud nyata penghormatan dan ibadah kepada sesama.

Pelatihan Pemulasaran Jenazah Jadi Wujud Kepedulian dan Ibadah Sosial
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Cimahi Hendra Gunawan menghadiri pelatihan pemulasaran jenazah. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Keterampilan memandikan, mengafani, hingga memakamkan jenazah bukan sekadar urusan teknis semata, melainkan wujud nyata penghormatan terakhir dan ibadah kepada sesama manusia. 

Demikian pesan yang disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Cimahi Hendra Gunawan dalam kegiatan pelatihan pemulasaran jenazah yang diinisiasi sejumlah lembaga sosial ini.

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai elemen masyarakat yang ingin mempelajari tata cara pemulasaran jenazah sesuai syariat Islam.

Hendra juga mengajak seluruh peserta untuk merenungkan makna mendalam di balik kegiatan ini. Pasalnya, setiap manusia tentu mendambakan penghormatan terbaik sepanjang hidupnya.

"Namun pertanyaan yang sama pentingnya, apakah kita telah mempersiapkan diri untuk memberikan penghormatan yang layak kepada saudara kita yang telah mendahului?" kata Hendra, Senin (12/10/2026).

Dalam agama Islam, jelas Hendra, merawat jenazah bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bentuk ibadah dan penghormatan terakhir kepada sesama manusia sekaligus wujud nyata kepedulian sosial. 

"Mengurus jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, menyolatkan hingga mengantarkan ke pemakaman membutuhkan pengetahuan agama dan keterampilan praktis yang benar sesuai syariat Islam," jelasnya.

Lebih dari sekadar penambahan keterampilan, terang Hendra, kegiatan ini dinilai sebagai upaya membangun masyarakat yang lebih peduli, siap saling membantu, dan kuat dalam semangat gotong royong. 

"Kami berharap ke depan ilmu pemulasaran jenazah tidak lagi hanya dikuasai segelintir orang, tetapi semakin banyak warga yang memilikinya," ucapnya.

Hendra menilai, kehadiran tetangga dan kerabat yang tulus membantu saat sebuah keluarga sedang berduka, menuntun proses pemulasaran dengan benar dan memastikan almarhum diperlakukan secara terhormat menjadi cerminan masyarakat yang sejati. 

"Itulah wajah masyarakat yang diinginkan, yang tidak hanya hadir dalam kegembiraan tetapi juga saling menguatkan dalam kesedihan," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Hendra juga menyampaikan tiga pesan khusus yang dititipkan oleh Wali Kota Cimahi, Ngatiyana agar kegiatan ini tidak berhenti sekadar sebagai acara seremonial. 

"Pertama, pahami ilmunya dan praktikkan dengan benar. Peserta diimbau jangan ragu bertanya kepada para pembimbing yang hadir, dan pastikan setiap tahapan dilaksanakan sesuai tuntunan syariat Islam dengan tetap menjunjung tinggi kebersihan, kerahasiaan, serta martabat jenazah," paparnya.

Kedua, sambung Hendra, bangun kepedulian di lingkungan masing-masing. Ilmu yang diperoleh harus menjadi bekal untuk membantu keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar, sehingga terbentuk jaringan warga yang siap sedia membantu saat ada yang berduka. 

"Ketiga, jadilah penggerak kebaikan. Bagikan pengetahuan ini kepada lebih banyak orang, jangan biarkan keterampilan ini hanya dimiliki sedikit pihak," ujarnya.

"Pemerintah Kota Cimahi senantiasa menyambut baik setiap inisiatif masyarakat yang memperkuat nilai-nilai keagamaan, kepedulian sosial dan semangat gotong royong di tengah kehidupan bermasyarakat," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani