Pemerintah Terus Upayakan Solusi untuk Banjir di Karawang
Berbagai program termasuk Citarum Harum menjadi salah satu upaya untuk mengentaskan permasalahan banjir di Jabar. Tak terkecuali di Kabupaten Karawang dan sekitarnya yang terjadi sejak dua pekan terakhir ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Berbagai program termasuk Citarum Harum menjadi salah satu upaya untuk mengentaskan permasalahan banjir di Jabar. Tak terkecuali di Kabupaten Karawang dan sekitarnya yang terjadi sejak dua pekan terakhir ini.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan terdapat 12.000 hektare lahan yang telah disiapkan untuk dihutankan pada tahun ini. Kawasan itu akan dapat menjadi tangkapan air hujan dan mampu mencegah banjir serta longsor.
Kendati begitu, Ridwan Kamil juga menekankan pentingnya nilai ekonomi dari lahan yang akan dihutankan tersebut. Selain itu, dia menginisiasi gerakan penanaman 50 juta pohon.
"Penanaman ini melibatkan masyarakat, mereka yang bahagia akan menanam pohon. Mereka yang mau menikah, yang naik pangkat, atau mendapatkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan),” kata Ridwan Kamil seperti diucapkan dalam pertemuan di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan sudah melakukan percepatan antibanjir seperti pembuatan bendungan seperti Bendungan Cibeet di Karawang.
Sementara itu, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono mengatakan terdapat 15.000 hektare luas lahan kritis yang terdapat di luar kawasan area DAS Citarum dan 64.000 hektare di luar kawasan. Sepanjang 2019 pihaknya telah menanam sebanyak 1,5 juta pohon untuk mengkonservasi lahan kritis.
"Untuk tahun ini kami fokus melakukan penanaman untuk lahan kritis yang berada di dalam kawasan. Targetnya 1 juta pohon," ungkapnya.
Adapun Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan permasalahan banjir tidak dapat diselesaikan secara sektoral tetapi dengan kolaborasi.
“Kita perlu menyusun program terintegrasi baik dari hulu, tengah hingga hilir,” katanya.
Tidak dipungkiri permasalahan yang dihadapi sangat kompleks, seperti tata guna lahan untuk pertanian, perkebungan, urbanisasi atau kegiatan merusak hutan secara destruktif, penambangan atau pun penebangan ilegal.
Doni mencontohkan kondisi di bagian hulu yang terjadi adanya alih fungsi lahan. Penanaman semusim bisa berdampak pada ekosistem di wilayah itu. Doni mencontohkan seperti banyaknya ditemui green house di wilayah Sarongge Puncak Cipanas. Dia menambahkan penyelesaian pada bagian hilir saja tanpa melihat kondisi hulu hanya akan menghabiskan energi yang sangat besar.
BPBD Karawang Siap Siaga
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang masih tetap siaga bencana.
Sekretaris BPBD Karawang Supriyatna mengatakan selama beberapa hari terakhir curah hujan memang menurun, tetapi sifatnya fluktuatif dan masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi.
"Atas hal itu, petugas masih terus siaga. Kami pun memberikan bantuan untuk korban banjir yang tidak hanya bersumber dari pemerintah, tapi juga pihak ketiga," katanya.
Sementara itu, sebelumnya banjir sempat merendam puluhan rumah di 89 desa yang tersebar di 29 kecamatan sekitar Karawang. Saat ini, banjir sudah surut dan hanya enam kecamatan yang masih dilanda banjir. Enam kecamatan itu di antaranya Kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Rengasdengklok, Tempuran, Pakisjaya, dan Batujaya. Di enam kecamatan itu, sebanyak 14.000 jiwa masih terdampak banjir. (Rianto Nurdiansyah)
Editor : Bsafaat

