Penguatan Ekosistem Riset di Satuan Pendidikan, Kemendikbudristek Sebar Rp280 Miliar

Kemendikbudristek telah menyebarkan uang sebesar Rp280 miliar sepanjang 2021, sebagai bentuk dukungan pengembangan riset satuan pendidikan

Penguatan Ekosistem Riset di Satuan Pendidikan, Kemendikbudristek Sebar Rp280 Miliar
Kemendikbudristek terus melakukan penguatan dalam mendukung riset di satuan pendidikan. Salah satunya dengan menggulirkan uang sebesar Rp280 miliar di tahun 2021 lalu.

INILAHKORAN.Com, Mataram- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah menyebarkan uang sebesar Rp280 miliar sepanjang 2021. Dana tersebut digulirkan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan riset di satuan pendidikan.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengaku pihaknya memprioritaskan penguatan ekosistem riset di satuan pendidikan.

"Melalui gerakan merdeka belajar, kami di Kemendikbudristek memprioritaskan upaya penguatan ekosistem riset di satuan pendidikan," kata Mendikbudristek Nadiem dalam Pembukaan Pekan Pemuda Ilmiah Riset dan Inovasi (PIRN) XX di Gedung Graha Bakti Praja Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) di Kota Mataram, Senin, 11 Juli 2022.

Baca Juga: Angka Vaksinasi Booster di Kota Bandung Diharapkan Meningkat Akhir Agustus

Menurut Nadiem, salah satu cara Kemdikbudristek memfasilitasi penguatan ekosistem riset tersebut, melalui program Matching Fund, yaitu program yang mempertemukan perguruan tinggi dengan industri untuk melakukan riset yang didukung oleh Kemendikbudristek melalui skema pemadanan anggaran.

Matching Fund adalah bentuk nyata dukungan dari Kemdikbudristek untuk penciptaan kolaborasi dan sinergi strategis antara insan perguruan tinggi (lembaga perguruan tinggi) dengan pihak industri.

Pada 2021, Kemdikbudristek mendanai lebih dari 450 proposal di perguruan tinggi akademik maupun vokasi dengan total dana dukungan Rp280 miliar.

Baca Juga: Kembali Berulah, Geng Motor Lakukan Penyerangan di Kota Bandung

Sementara untuk para pelajar pada 2022, Kemdikbudristek juga melanjutkan program Kihajar STEM (Kita Harus Belajar) STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.

"Sampai hari ini sudah lebih dari 65.000 pelajar di seluruh Indonesia yang mengikuti program ini dan menjadi generasi Kihajar STEM," ujarnya.

Kihajar STEM merupakan wadah eksplorasi untuk peserta didik pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK, untuk berpikir kritis, kreatif, dan mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dalam mengembangkan proyek berbasis STEM melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Baca Juga: Empat Orang Tewas Terbakar Dalam Mobil Pick Up di Pamanukan Subang

Peserta Kihajar STEM akan berkompetisi di tahap basic, intermediate dan final. Program tersebut bertujuan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila yang memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan mampu berkomunikasi.***


Editor : inilahkoran