Perang Dagang, Trump Terlalu Pede
Presiden AS Donald Trump terlalu percaya diri pada kekuatan ekonomi Amerika. Tapi perang dagang dengan China mengancam defisit neraca transaksi berjalan Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, New York- Presiden AS Donald Trump terlalu percaya diri pada kekuatan ekonomi Amerika. Tapi perang dagang dengan China mengancam defisit neraca transaksi berjalan Indonesia.
Donald Trump semakin asyik memainkan zui quan, silat kungfu mabuk. Tangannya menari, menampar kesana kemari. Gerakan kakinya ikut menendang, meskipun dia sudah berumur 72 tahun.
Presiden Amerika Serikat itu tambah leluasa mengeluarkan ucapannya, karena di bawah kendalinya pertumbuhan ekonomi AS melesat dari perkiraan 2,2% menjadi 3,2% di kuartal I-2019.
Lihat saja ketika perang dagang AS-China semakin memanas, Trump malah kembali mengajak berkelahi Uni Eropa (UE). Dia sudah ancang-ancang ingin mengenakan tarif bea masuk terhadap mobil UE. Sebelumnya, Trump sudah memberlakukan tarif 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium terhadap UE, termasuk Kanada dan Meksiko.
Tak hanya dengan China, UE, Kanada dan Meksiko. Trump juga berkelahi dengan Jepang dan Turki.
Perkelahiannya dengan banyak negara itu karena urusan perdagangan yang dianggap timpang. Trump tak ingin AS "diperas" terus menerus, karena dianggap kaya raya. Dia harus melindungi industri dan pekerja AS dari serbuan negara lain. Dia berlakukan tarif tinggi bea masuk terhadap barang-barang impor. Dia proteksi AS.
Banyak negara dan lembaga keuangan internasional mengecam kebijakan Trump itu, karena dapat membahayakan perekonomian global. Tapi dia cuek saja. Trump tahu benar posisi AS dalam percaturan ekonomi, politik, teknologi, militer hingga budaya di muka bumi ini. AS menguasai dan mengendalikan bidang-bidang itu, termasuk lembaga keuangan internasional. Trump terlalu percaya diri (pede) pada kekuatan AS.
Karena itu, Trump enak saja berjalan. Dia bidik negara-negara yang menyalahkan hubungan perdagangan dengan AS. Dia senang, karena dengan cara ini ada US$ 100 miliar saban tahun masuk ke kas negara. "Bagus untuk AS, tidak baik untuk China," kata Trump di Twitter pakan lalu.
Tetapi, Trump mungkin lupa bahwa AS tidak hidup seorang diri di muka bumi ini. Ada interaksi dengan lingkungan. Ada saling ketergantungan satu sama lain.
Makanya, sekarang ini para petani AS banyak yang mengeluh lantaran ulah Trump. Para petani kedelai, gandum, dan jagung, serta peternak babi berteriak karena sejak perang tarif berlangsung biaya yang harus mereka membengkak. Petani menderita karena penjualan ke China berkurang dan konsumen AS membayar harga lebih mahal untuk barang yang diimpor dari China.
Setiap tahun AS mengekspor kedelai senilai US$ 12 miliar ke China, tapi pemberlakuan tarif oleh Beijing telah mengurangi secara tajam ekspor AS ke China.
Pabrik pengelohan daging babi juga mengalami penurunan omzet besar-besaran. Kementerian Pertanian AS melansir ekspor babi dan produk jeroan menurun 30% sejak April 2018 ketika China mulai mengenakan kenaikan tarif 25%. China kembali menaikkan tarif ini pada Juli 2018 dengan besaran sama.
Tetapi sejauh ini Pemerintah AS telah membayar lebih US$ 8,5 miliar kepada petani-petani AS untuk mengganti kerugian mereka akibat kegagalan menjual hasil pertanian ke China karena tarif yang diberlakukan oleh Beijing.
Tahun lalu Trump menjanjikan bantuan kepada petani senilai US$ 12 miliar, khususnya petani kedelai, gandum, jagung, serta peternak babi. Trump mengatakan dia bisa minta Kongres memberikan tambahan US$ 15 miliar kalau petani AS terus menderita kerugian akibat tarif China.
Perang dagang yang sedang berlangsung telah memukul sektor pertanian kedua negara, termasuk otomotif dan teknologi. Dari tarif impor kedelai, jagung, gandum, dan sorgun saja, menurut ekonom pertanian Universitas Purdue, Wally Tyner, ekonomi AS dan China masing-masing kehilangan sekitar US$ 2,9 miliar per tahun.
Perang dagang antara AS dan China juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut. Sebagian besar analisis memproyeksikan, dampak langsung perang dagang merugikan produk domestik bruto (PDB) AS sebesar 0,1%-0,2%, sementara China diperkirakan akan mengalami kerugian 0,3%-0,6% dari total PDB.
Hanya saja untuk sementara waktu, pertumbuhan ekonomi kedua negara masih terbilang bagus. Sepanjang kuartal I-2019 ekonomi China tumbuh stabil 6,4%, sementara pada periode yang sama ekonomi AS meningkat menjadi 3,2% dari perkiraan 2,2%.
Indonesia dag-dig-dug
Tapi, jika perang dagang ini berlangsung panjang, bukan hanya AS dan China yang merugi, juga perekonomian global. Indonesia yang sedang berupaya meningkatkan ekspor ke AS--salah satu pasar utama--untuk menurunkan defisit neraca transaksi berjalan, jelas akan terganggu.
Defisit neraca transaksi berjalan yang membengkak dapat menurunkan nilai rupiah dan menghambat arus modal asing masuk. Tahun 2018 defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sampai menyentuh US$ 31,1 miliar, setara 2,9% dari PDB--rasio paling parah sejak 2014. Pada kuartal I-2019 sebesar 2,6% dari PDB.
Indonesia juga dag-dig-dug karena fasilitas generalized system of preference (GSP) sedang dievaluasi AS. GSP adalah perlakuan khusus impor yang diberikan AS kepada sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ada 124 produk, termasuk kayu plywood, cotton, produk-produk pertanian, udang dan kepiting yang masuk ke AS lewat fasilitas GSP. Jika dicabut, Indonesia mau tidak mau harus membayar sebesar US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 25 triliun per tahun kalau 124 produk itu masih ingin tetap masuk ke AS.
Mudah-mudahan saja GSP masih tetap dipegang Indonesia, dan Trump tak ingin melanjutkan perang dagang. Dia memang sudah memberi sinyal untuk menemui Presiden China Xi Jingping bulan depan di KTT Kelompok 20 (G20) di Jepang. (inilah.com)
Editor : Bsafaat

