Perseteruan Keluarga Vanessa Angel dan Bibi Andriansyah Jadi Konsumsi Publik, Begini Penjelasan dari Psikolog

Perseteruan yang terjadi antara keluarga Vanessa Angel dan Bibi Andriansyah telah menjadi konsumsi publik, begini penjelasan dari psikolog

Perseteruan Keluarga Vanessa Angel dan Bibi Andriansyah Jadi Konsumsi Publik, Begini Penjelasan dari Psikolog
Faisal dan Doddy Sudrajat.

INILAHKORAN, Bandung - Akhir-akhir ini publik terus disuguhkan oleh kabar dari keluarga Vanessa Angel dan Bibi Andriansyah hingga akhirnya menjadi konsumsi publik. Begini penjelasan dari sisi psikologinya.

Baik dari pihak keluarga Vanessa Angel maupun Bibi Andriansyah seringkali mengeluarkan statmentnya terkait peramasalahan yang muncul ke publik.

Psikolog Joice Manurung mengatakan bahwa apa yang menjadi konsumsi publik itu tergantung kepada individunya.

Baca Juga: Kasus Novia Widyasari Belum Usai, Muncul Korban Mengaku Dihamili dan Dipaksa Aborsi Anggota BIN

"Ketika seseorang ranah pribadinya dibuka atau dibaca oleh banyak orang maka jadi konsumsi publik. Artinya orang yang membuka ruang tersebut tidak merasa terganggu," ujar Joice Manurung dikutip Inilahkoran dari YouTube Seleb oncam News, Minggu 5 Desember 2021.

Menurutnya, orang yang mengungkapkan ranah pribadinya ke khalayak kemungkinan mendapat keuntungan tertentu.

Baca Juga: Ibunda Novia Widyasari Buka Suara, Netizen Pertanyakan Keaslian Video: Seperti Ada Ancaman Nih

"Mungkin barangkali ada benefit yang diperoleh terkait pendapat publik atau respon publik terhadapnya. Karena bagi pihak-pihak lain yang menyertakan dirinya untuk terlibat harus dilihat motifnya apa dulu," katanya.

Selain itu, menurut Joice motif seseorang yang membuka ranah pribadinya tidak bisa diketahui secara langsung.

Lebih lanjut, Joice menyampaikan jika seseorang secara konsisten mengatakan atau berperilaku yang sama di hadapan publik, maka orang tersebut mempunyai kecenderungan motif.

Baca Juga: Kembali Salurkan Bantuan Gubernur, JQR Gandeng PGPI Sasar Kelompok Rentan di Gunung Puntang

"Karna sesungguhanya motif itu tidak bisa dibaca begitu saja dari apa yang dikataakan atau dilakukan namun harus melihat konsistensi perilaku untuk kemudian menjadi sebuah pola dan pola inilah yag dibaca sebagai kecenderungan motif," pungkasnya.***


Editor : inilahkoran