Petani Purwakarta Mulai Lirik Bididaya Jagung
Kabupaten Purwakarta, memiliki karakter tanah dan iklim yang sangat mendukung untuk pengembangan produk pertanian, perkebunan dan holtikultura. Sehingga, mau tanaman apapun selalu jadi dan akan tumbuh subur.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Purwakarta - Kabupaten Purwakarta, memiliki karakter tanah dan iklim yang sangat mendukung untuk pengembangan produk pertanian, perkebunan dan holtikultura. Sehingga, mau tanaman apapun selalu jadi dan akan tumbuh subur.
Memang, untuk tanaman padi masih mendominasi. Namun, selain padi juga ada beberapa tanaman yang potensial lainnya. Di antaranya, daun teh, pala, cengkeh, kopi dan buah manggis.
Tak hanya itu, saat ini ada juga produk perkebunan yang tengah dilirik petani di wilayah tersebut. Yakni, jagung. Budidaya jagung, selama ini sifatnya memang selingan. Dengan kata lain, selana ini jagung ini belum terlalu dijadikan andalan oleh para petani di wilayah ini.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan menuturkan, sejauh ini budidaya jagung memang belum jadi pilihan utama para petani di wilayahnya. Karena, mereka masih memprioritaskan untuk tanam padi.
"Tapi, dua tahun terakhir ini petani mulai melirik untuk budidaya jagung. Alasannya, karena saat ini jagung juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi," ujar Agus kepada INILAH, Senin (9/3/2020).
Selain punya nilai ekonomis, sambung Agus, dalam hal pemeliharannya, tanaman Jagung jauh lebih mudah dibanding tanaman padi. Adapun jagung yang dibudidayakan petani di wilayahnya ini bukan jagung manis. Melainkan, jagung komposit atau jagung pipil.
Untuk jagung jenis ini, sambung dia, petani harus memanennya hingga jagung tersebut berumur tua. Jadi, tidak dipanen dalam kondisi muda seperti halnya panen jagung manis. Sebab, jagung komposit ini diperuntukan bagi kebutuhan industri.
"Jagung jenis ini, biasanya untuk pakan ternak. Harga jualnya cukup menjanjikan, yakni di kisaran Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogramnya," jelas dia.
Terkait dengan pangsa pasarnya, lanjut Agus, saat ini sudah cukup mudah. Karena, sudah ada perusahaan yang siap menampung hasil panen jagung para petani. Dengan begitu, petani tak perlu bingung untuk menjual hasil panennya.
"Syarat penjualan hasil panennya juga mudah. Yakni, hanya ditentukan oleh kadar airnya yang maksimal 16 persen. Jadi, jika kadar airnya bagus maka hasil panen mereka akan langsung bisa diterima untuk kebutuhan industri," pungkasnya. (Asep Mulyana)
Editor : JakaPermana

