INILAH, Bogor - Kini, PT Pindad mengembangkan kapabilitas dan kapasitas produksinya. Pada 2020 mendatang, industri pertahanan dalam negeri itu bakal memproduksi amunisi kaliber sedang.
“Dengan penanaman modal negara sebesar Rp700 miliar, pada tahun 2020 kami akan membangun pabrik di Turen, Kabupaten Malang. Nantinya, di pabrik itu akan memproduksi amunisi sedang hinga besar dari 20 mm hingga 155 mm,” kata GM Senjata Pindad Yayat Ruyat saat seminar nasional di Hotel Aston Sentul, Bogor, Selasa (9/4/2019).
Menurutnya, fasilitas produksi amunisi baru itu merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas perusahaan. Ini dilakukan seiring banyaknya permintaan produk dari pasar domestik dan internasional.
Dia menjelaskan, selama ini Pindad hanya memproduksi amunisi kaliber kecil, senjata serbu, hingga kendaraan tempur dan kendaraan taktis. Rencana produksi amunisi kaliber sedang-besar itu diakuinya akan menghemat anggaran pemerintah mencapau triliunan rupiah.
“Aunisi kaliber sedang hingga besar ini akan memperkuat persenjataan helikopter TNI AU dan AD, kapal tempur TNI AL dan lainnya. Selama ini, kita sangat bergantung pada produk luar negeri. Karena, alutista (alat utama sistem pertahanan) tersebut merupakan produk luar negeri seperti Rusia, Jerman, Prancis dan lainnya. Selain mandiri, ke depan nantinya kita akan memiliki daya tawar dan daya gentar terhadap ancaman dari luar,” jelasnya.
Selain mendukung alutista dalam negeri, dia menyebutkan produksi amunisi sedang dan besar itu pun bisa memenuhi pasar mancanegara. Setiap produk yang dihasilkan itu bisa diekspor ke negara-negara tetangga di Association of Southeast Asian Nations (Asean).
“Karena konstelasi geopolitik di Laut Cina Selatan, Korea Selatan versus Korea Selatan atau India versus Pakistan akan mejadikan kebutuhan amunisi kecil, sedang dan besar sangatlah besar. Hingga itu menjadi peluang kita untuk mengekspor amunisi ke luar negeri sangatlah terbuka,” ujarnya.
Yayat menyebutkan, meski permintaan dari luar negeri terhadap amunisi kecil itu relatif tinggi namun pihaknya menahan pemenuhannya. Pasalnya, produksi Pindad saat ini baru mencukupi kebutuhan TNI dan Polri.
“Produksi amunisi kecil kita sudah mencapai 350 juta butir peluru, hingga awal 2020. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kapasitas itu hanya bisa memenuhi permintaan Singapura dan Thailand. Itu juga untuk menjaga hubungan baik karena mereka pelanggan senapan serbu kita. Amunisi kita sesuai standar NATO (North Atlantic Treaty Organization) sehingga bisa banyak dipakai oleh banyak negara,” jelasnya.
Dari informasi yang dihimpun, seminar nasional “Teknologi Munisi Kaliber Sedang (20-40 mm) & Pembangunan Kapabilitas di Indonesia” itu merupakan rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-36 Pindad. Gelaran itu pun sebagai kontribusi Pindad untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam bidang amunisi kaliber sedang melalui jejaring, knowledge sharing dan berdiskusi bagi para pengguna, pembuat kebijakan, industri, peneliti dan perguruan tinggi.
Seminar dibuka Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad Ade Bagdja, Wakil Komisaris Utama Pindad Sumardi, Commercial Director of NLC Daniel Aren, Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Sanusi dan dihadiri para user, pemerintahan, institusi penelitian, dan universitas.
Sejauh ini, Pindad mampu memproduksi berbagai macam amunisi sesuai standar NATO seperti amunisi kaliber kecil dari 5,56 mm hingga 12,7 mm dan amunisi khusus seperti mortar, granat, dan piroteknik. Pindad berencana membuat investasi di lini produksi perakitan amunisi kaliber sedang. Meliputi 20 mm, 25 mm, 30 mm, 40 mm, serta armor-piercing, high-explosive, smoke, illumination, training dan anti-personnel cartridges yang memiliki kemampuan untuk melawan light armor, materiel, dan personel targets.