PLN Siap Bangun SPKLU
Teknologi kendaraan listrik kini semakin pesat. Sebagai penyedia energi listrik di negeri ini, PLN siap membangun stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Teknologi kendaraan listrik kini semakin pesat. Sebagai penyedia energi listrik di negeri ini, PLN siap membangun stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jabar Iwan Purwana menyatakan kesiapannya untuk membangun di sejumlah titik potensial se-Jabar. Saat ini, bertepatan dengan peringatan Hari Listrik Nasional ke-74 PLN meluncurkan empat SPKLU yakni di BSD City Tangerang, PLN UID Jakarta Raya, PLN UID Bali, dan PLN UID Jabar.
“Sekarang, di Jabar memang baru satu unit ini di Bandung. Ke depan, kita akan massifkan pembangunan di daerah lain seperti Bekasi, Bogor, Depok dan kota besar lainnya. Tentu, pembangunan SPKLU ini bertahap,” kata Iwan di Bandung, Senin (28/10/2019).
Menurutnya, di SPKLU itu socket yang ditancapkan ke kendaraan sesuai standar internasional. Artinya, setiap kendaraan rakitan Eropa, Amerika, dan Asia itu seluruhnya bisa diisi pasokan listriknya. Selain itu, sekali pengisian baterai hanya membutuhkan waktu selama 30 menit yang bisa menempuh jarak sekitar 55 km.
“Pengisian baterai di SPKLU ini menggunakan teknologi fast charging,” tambahnya.
Iwan pun mengajak setiap pelaku usaha di Jabar ini bisa mengajukan pendirian SPKLU di tempatnya. Pasalnya, PLN sejauh ini memiliki keterbatasan lahan. Untuk itu, pihaknya terbuka bagi masyarakat umum yang bernita memasang di tempatnya.
“Untuk lokasi, kita akan menggandeng pemerintahan daerah. Namun, selain itu kita mengharapkan pendirian SPKLU ini dibangun di pusat keramaian seperti mal atau tempat anak muda nongkrong ,” ujarnya.
Disinggung mengenai investasi yang dibutuhkan untuk mendirikan SPKLU, Iwan mengaku besarannya relatif lebih rendah dari pembangunan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Tak hanya itu, lahan yang dipakai pun relatif lebih sempit dari pembangunan SPBU.
Iwan mengaku, siapa pun bisa menjadi mitra bisnis. Meski demikian, pihaknya masih menggodok terkait skema bisnis yang diterapkan bersama para mitra. Ini diakuinya penting karena pemakaian listrik itu per-kWh terdapat tarif tertentu. Nantinya, para mitra itu wajib mengikuti standar tarif yang diterapkan PLN. Meski demikian, dia memastikan biaya pengisian listrik itu relatif lebih ekonomis dibandingkan tarif bahan bakar minyak (BBM).
“Istimewanya lagi, wakti instalasi yang dibutuhkan untuk membangun satu unit SPKLU ini maksimal hanya tiga hari,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jabar Bambang Tirtoyuliono menyebutkan langkah PLN ini sesuai dengan visi Pemprov Jabar yang bertekad menekan ketergantungan pada energi fosil. Dia mengaskan, pihaknya pun siap mengembangan SPKLU ini di setiap penjuru Jabar.
“Untuk sekarang memang masih belum terasa karena orang yang memiliki kendaraan listrik masih relatif sedikit. Tapi, ke depan kita menuju ke arah pemakain sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Intinya, pemakaian energi listrik itu kita sangat mendukung,” jelasnya.
Bambang menambahkan, ke depan SPKLU ini diharapkan bisa terdapat di sejumlah tempat umum. Dia menegaskan, Gedung Sate dipastikan salah satu lokasi potensial untuk dibangun SPKLU.
“Apalagi, di tahun ini nanti Gubernur Jabar Ridwan Kamil akan memberikan sepeda motor listrik ke seluruh kepala desa se-Jabar. Penggunaan sumber energi listrik itu menjadi salah satu konsern kami di Pemprov Jabar,” ucapnya.
Sejauh ini, populasi kendaraan listrik masih relatif terbatas. Kalau pun ada, kendaraan listrik itu masih berupa prototipe dan diteliti di sejumlah perguruan tinggi. Salah satunya Institut Teknologi Nasional (Itenas) yang memiliki Laboratorium Perancangan Kendaraan Listrik.
Editor : Doni Ramdhani

