Portal Belajar Digital Diluncurkan, Bantu Guru Deteksi Dini Anak Disleksia
Yayasan Lentera Insan Kreatif meluncurkan portal Ruangnya Disleksia di Bandung untuk membantu identifikasi, memperkuat pendataan, dan mendukung guru mendampingi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Yayasan Lentera Insan Kreatif (Link) meluncurkan portal Belajar Digital, untuk memperluas akses identifikasi dan pendampingan anak dengan disleksia. Platform ini juga ditujukan untuk membantu guru memahami kebutuhan belajar anak, sekaligus memperkuat pendataan disleksia di Indonesia.
Ketua Yayasan Link, Laurentia Mira mengatakan, peluncuran portal tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan Ruangnya Disleksia Festival yang berlangsung pada 23-25 Oktober 2026 di Greko Creative Hub, Kota Bandung.
Melalui platform tersebut, guru dapat mengakses fasilitas identifikasi dan berbagai sumber pengetahuan untuk mendukung proses pembelajaran anak dengan disleksia.
“Di dalam aplikasi itu, bisa dilakukan identifikasi dan juga ada banyak sekali sumber daya pengetahuan yang bisa dimanfaatkan untuk para guru membantu anak-anak disleksia,” ujar Mira.
Menurut Mira, portal ini juga menjadi sarana untuk memperluas pengumpulan data mengenai anak dengan disleksia. Ketersediaan data yang lebih komprehensif diperlukan untuk memetakan kebutuhan identifikasi dan pendampingan, termasuk di daerah yang belum memiliki akses memadai terhadap layanan tersebut.
Saat ini, data di Kota Bandung dinilai lebih solid karena menjadi basis kegiatan yayasan. Namun, pengumpulan data masih perlu diperluas dan dibandingkan dengan informasi dari daerah lain agar gambaran mengenai anak dengan kesulitan belajar di Indonesia semakin akurat.
“Kalau di Kota Bandung, itu sudah lebih solid datanya, karena kita base-nya di sini. Hanya memang untuk melihat kesahihan data ini kita juga perlu bandingkan dengan data di daerah-daerah lain di Indonesia,” kata Mira.
Sebagai langkah lanjutan, Gerakan Bhinneka berencana melakukan ekspedisi ke Indonesia Timur pada 2027 untuk menjangkau lebih banyak anak dan mengidentifikasi kebutuhan mereka terkait kesulitan belajar.
Selain pengembangan portal, Ruangnya Disleksia Festival juga menyediakan layanan identifikasi disleksia gratis selama tiga hari. Layanan ini melibatkan tenaga spesialis dan sejumlah klinik untuk membantu keluarga yang selama ini terkendala biaya pemeriksaan.
Mira menegaskan, identifikasi merupakan tahap awal untuk menentukan penanganan yang tepat. Menurutnya, akses terhadap layanan tersebut perlu diperluas agar anak dengan disleksia dari berbagai latar belakang ekonomi memiliki kesempatan memperoleh pendampingan.
“Karena biasanya identifikasi seperti ini mahal sekali, sementara kita tahu bahwa disleksia tidak sepenuhnya ada di kalangan ekonomi menengah ke atas. Ada begitu banyak orang yang juga membutuhkan bantuan identifikasi ini. Kalau identifikasi sudah dilakukan, baru kemudian kita bisa bergerak ke tatalaksana, bagaimana membantu mereka,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberadaan portal belajar perlu diikuti penguatan kapasitas guru. Sebab, belum semua tenaga pendidik memahami disleksia dan memiliki kemampuan untuk mendampingi anak sesuai kebutuhan belajarnya.
“Tidak semua guru memahami, ya. Jadi tidak juga semua sekolah memiliki fasilitas, begitu, untuk mendampingi anak-anak dengan disleksia,” ujarnya.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa mengapresiasi peluncuran portal dan penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai, identifikasi dini dan pendampingan yang tepat penting agar anak dengan disleksia tidak kehilangan kesempatan mengakses pendidikan.
Pemkot Bandung, kata Yorisa, akan mendorong pendataan bersama Dinas Pendidikan, untuk mengetahui jumlah anak dengan disleksia usia sekolah. Data itu akan menjadi dasar dalam memetakan kebutuhan pendampingan, serta merumuskan langkah kebijakan berikutnya.
“Saya akan kolaborasikan dengan Dinas Pendidikan sehingga kita bisa tahu berapa banyak dari seluruh anak usia sekolah, yang sekolah, yang disleksia,” katanya.
Ruangnya Disleksia Festival turut menghadirkan tiga rangkaian kegiatan, yakni Berkarya, Mengenal, dan Menjelajah. Kegiatan Berkarya meliputi mewarnai, menggambar, festival matematika, serta pertunjukan anak. Sementara itu, Mengenal menghadirkan identifikasi disleksia, pemeriksaan kesehatan, diskusi, dan seminar.
Adapun Menjelajah diisi bazar kuliner, pameran karya dan produk kreatif, pameran pendidikan atau edufair, serta stan edukasi.
Melalui peluncuran portal Belajar Digital dan rangkaian festival tersebut, Yayasan Lentera Insan Kreatif berharap akses informasi semakin terbuka, kemampuan guru meningkat, dan pendampingan anak dengan disleksia dapat menjangkau lebih banyak keluarga di Indonesia.
Editor : Ahmad Sayuti
