Rama Giovani: Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik
Sabtu pagi (26/10/2019), rangkaian kegiatan Happiness Project berakhir, sekaligus memperingati Bulan Kesehatan Mental pada bulan Oktober, Happiness Project Vol 2 digelar di Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Sabtu pagi (26/10/2019), rangkaian kegiatan Happiness Project berakhir, sebelumnya yaitu Happiness Project Vol 1 dilaksanakan di Café Halaman pada 21 September yang lalu, dan kali ini sekaligus memperingati Bulan Kesehatan Mental pada bulan Oktober, Happiness Project Vol 2 digelar di Bandung Creative Hub Jalan Laswi No 7 Bandung.
Dilatarbelakangi dengan keinginan besar dalam menyebarkan kesadaran dan pemahaman kesehatan mental, Switch-Up (Mental Health Care and Human Development) dengan Yayasan Sehat Mental Indonesia (YSMI) berkolaborasi dalam mengemas acara yang di dalamnya berisi seminar mengenai kesehatan mental, pameran foto bertajuk Bahagia ini Milikku dan pemutaran film dokumenter berjudul Create Your Own Happiness.
Acara diawali dengan alunan musik dari Amy 4 Peniti dan Zaki 4 Peniti, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kegiatan oleh moderator dan pemaparan oleh narasumber utama seorang dokter psikiatri yaitu dr Rama Giovani SpKJ.
Sebelumnya, moderator acara, Bayu W Wardhana SPsi, yang juga menjadi Staf Ahli Switch Up Mental Health Care and Human Development menyampaikan bagaimana kondisi kekinian kesehatan mental di Indonesia.
Dia menuturkan, satu dari lima orang mengalami gangguan mental (data dari World Federation Mental Health). Kemudian, hanya satu dari sebelas orang yang mengalami gangguan kesehatan mental mendapatkan perawatan, berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
Bahkan, yang lebih miris lagi adalah tingkat bunuh diri pada orang usia 10-24 tahun meningkat 57 persen dari data diambil pada 2007-2017. Kang Bayu --panggilan akrabnya-- menambahkan, seperti halnya gangguan medis lainnya, siapa pun bisa terkena gangguan kesehatan mental. Sehingga, bila orang terpapar gangguan kesehatan mental, harus segera tangani dan diobati dengan tepat.
Di samping itu, dalam pemaparannya dr Rama Giovani menjelaskan, apa itu kesehatan mental, dan gangguan kesehatan mental, mitos dan misinformasi mengenai masalah kesehatan mental saat ini, menyiasati jika terkena masalah kesehatan mental, menangani orang-orang di sekitar kita yang mengalami masalah, menjaga dan memelihara kesehatan mental.
Isi dari acara ini dimaksud sebagai upaya promotif dan preventif terhadap masalah kesehatan mental. Upaya promotif yang dimaksud adalah pemaparan mengenai kesehatan mental dari segi medis yang mana artinya kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan perlu kesadaran akan hal ini sehingga terus menjaga bahkan meningkatkan kesehatan mental.
Selain itu, upaya preventif terhadap gangguan kesehatan mental diungkapkan secara jelas oleh narasumber yaitu dengan mengenali diri, “salah satu upaya dalam menghindari dari gangguan kesehatan mental adalah dengan mengenali diri. Oleh karena itu, perlu untuk melakukan aktivitas yang disingkat dalam 4E yaitu Easy, Enjoy, Excellent, dan Earn”.
Aktivitas 4E yang dimaksud adalah aktivitas yang dijalani sesuai di mana ketika menjalaninya akan terasa Enjoy atau menikmati dalam melakukan aktivitas tersebut, Easy atau mudah dalam melakukan aktivitas tersebut, Excellent atau terampil dalam melakukan aktivitas tersebut, dan Earn yang artinya bisa mendapatkan hasil dari aktivitas tersebut.
Tercapainya 4E ini, aktivitas yang dilaksanakan akan jauh lebih produktif bahkan lebih baik bagi kesehatan mental. Masih banyak di antara kita menjalani kegiatan dengan semangat saat Jumat malam dan kurang semangat pada Minggu malam.
Atau, lebih dikenal dengan TGIF (Thanks God Is Friday). Kebanyakan orang masih ada dalam lingkungan earn dan excellent saja namun tidak merasa mudah (easy) atau menikmatinya (enjoy) sehingga timbullah stres, depresi, dan lainnya.
Jadi, kadang masyarakat umum abai, perilaku mereka tidak memanusiakan manusia, seperti yang diceritakan Rama Giovani sewaktu mengadakan penelitian di lapangan ketemu seorang kepala desa. “Pak Kades, ada warganya yang dipasung kok gak dikontrol?” ujarnya.
“Ah boro-boro mikirkeun nu gelo, nu cager geu hese,” jawab Pak Kades. Begitulah yang terjadi di masyarakat. Malah, sekali waktu bila ada hewan piaraan hilang, biasanya banyak pamflet kehilangan nempel di mana-mana.
Jadi, dari mulai masyarakat sampai pemerintah, penanganan gangguan kesehatan mental itu belum menjadi skala prioritas oleh pemerintah. Menurut Rama, pemerintah itu masih berpikiran penyakit yang harus ditangani itu penyakit yang menyebabkan kematian, penyakit yang menyebabkan disabilitas (penyakit mental) itu masih belum tertangani maksimal.
Itulah tugas kita untuk meyakinkan masyarakat dan pemerintah bahwa ini itu penting. Kalau pemerintah ingin membangun sumber daya manusia yang andal, harus dipikirkan juga kesehatan fisik maupun kesehatan mentalnya. Ini sejalan dengan tujuan pembangunan pemerintah sekarang yang menekankan pada penguatan SDM, sehat fisik dan juga sehat mental.
“Kami terus mengadakan acara seperti ini, gerakan sosial mengampanyekan pentingnya kesehatan mental pada masyarakat, terus-menerus saya berbuat sebisanya, masalah diterima atau tidak masyarakat yang akan meresponsnya. Tugas kami memberikan edukasi,” tandas dr Rama.
Dia berharap, acara ini menjawab secara menyeluruh mengenai kesehatan mental sehingga seseorang dapat lebih paham dan mempunyai kesadaran kesehatan mental. Dan di akhir, dr Rama memberikan penutup dengan mengutip quote Albert Einstein.
Penemu teori relativitas ini mengatakan, “Kegilaan adalah ketika melakukan hal yang sama secara berulang dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda”. Artinya, perlu adanya literasi kesehatan mental tambahan pemahaman dan pengetahuan dalam menyikapi dan memelihara kesehatan mental. (sur)
Editor : suroprapanca

