Reaktivasi Memacu Okupansi

REAKTIVASI dan pembukaan kembali penerbangan domestik di Bandara Husein Sastranegara Bandung memicu lompatan drastis pada trafik transportasi udara Jawa Barat.

Reaktivasi Memacu Okupansi
REAKTIVASI: Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat reaktivasi dan pembukaan kembali penerbangan domestik di Bandara Husein Sastranegara Bandung memicu lompatan drastis pada trafik transportasi udara.(ANTARA FOTO)

Suasana riuh dan senyum sumringah kembali menghiasi Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Setelah sempat sepi akibat pembatasan operasional, bandara di jantung Kota Kembang ini kembali "hidup" sejak 14 Agustus 2026.

Reaktivasi Husein Sastranegara membawa angin segar bagi para pelancong dan pelaku usaha yang merindukan kepraktisan terbang langsung dari pusat kota.

Kebijakan reaktivasi ini langsung memicu kerinduan warga untuk terbang. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat lonjakan fantastis jumlah penumpang domestik hingga 2.558,27 persen hanya dalam waktu satu bulan.

Pada Agustus 2026, tercatat ada 11.085 orang yang hilir mudik di bandara ini, melonjak tajam dibanding bulan sebelumnya.

"Lonjakan tajam ini terjadi seiring dibukanya kembali penerbangan domestik di Bandara Husein Sastranegara Bandung," ujar Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, Kamis.

Kegembiraan ini tidak hanya dirasakan oleh para penumpang yang kini bisa lebih mudah pulang kampung atau liburan ke berbagai destinasi seperti Medan, Pekanbaru, Padang, Batam, Pontianak, Makassar, dan Denpasar.

Sektor bisnis pun ikut ketiban rezeki. Denyut nadi logistik kembali berdetak kencang dengan muatan kargo yang melesat hingga 3.791,22 persen, menyentuh angka 16,02 ton pada bulan Agustus.

Kabar baik bagi warga Bandung tidak berhenti di sini. Mulai Oktober 2026, Bandara Husein Sastranegara juga diproyeksikan akan kembali membuka rute internasional ke Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Singapura, siap menghubungkan kembali warga Jawa Barat dengan dunia luar tanpa perlu menempuh perjalanan jauh ke bandara lain.

Sementara itu, sektor pariwisata Jawa Barat menunjukkan gairah yang kuat hingga Agustus 2026.

Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) via Bandara Kertajati mencapai 308 kunjungan pada Agustus 2026, melonjak 32,76 persen dibanding bulan sebelumnya (m-to-m).

Keberadaan Kereta Cepat WHOOSH turut menjadi magnet baru bagi wisman. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 127.885 kunjungan WNA masuk ke Jawa Barat menggunakan WHOOSH melalui Stasiun Tegalluar, Padalarang, dan Karawang, di mana Stasiun Tegalluar mendominasi 87,85 persen kedatangan.

Pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Jawa Barat secara kumulatif (Januari– Agustus 2026) telah mencapai 149,69 juta perjalanan, naik 5,78 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Wilayah Bodebek dan Bandung Raya menjadi destinasi terfavorit dengan menguasai 52,41 persen dari total tujuan kunjungan wisnus.

Untuk Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Agustus 2026 berada di level 47,99 persen, dipimpin oleh Kabupaten Karawang sebesar 69,30 persen dan Kota Depok sebesar 63,90 persen.

Cabai Rawit dan Beras Sementara itu pada September 2026, Jawa Barat mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,23 persen.

Angka ini membawa inflasi tahun kalender (year-todate/ y-to-d) berada di level 2,10 persen dan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di angka 3,16 persen.

Margaretha menjelaskan bahwa pendorong utama inflasi bulanan berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,16 persen.

Musim kemarau yang panjang memicu kekeringan dan serangan hama patek di sejumlah sentra produksi, sehingga menekan pasokan cabai rawit dan beras.

"Musim kemarau panjang berdampak pada keterbatasan pasokan cabai rawit dan beras. Di sisi lain, peningkatan permintaan pasar turut mendorong kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras. Kenaikan biaya kuliah di awal tahun ajaran baru perguruan tinggi juga memberi andil terhadap inflasi," papar Margaretha.

Komoditas utama penyumbang inflasi m-to-m meliputi cabai rawit sebesar 0,05 persen, daging ayam ras sebesar 0,05 persen, telur ayam ras sebesar 0,05 persen, emas perhiasan sebesar 0,03 persen, dan bensin sebesar 0,02 persen.

Sebaliknya, penurunan harga terjadi pada komoditas ketimun sebesar 0,03 persen dan bawang merah turun sebesar 0,02 persen, seiring melimpahnya pasokan akibat panen raya di daerah produsen.

Secara kewilayahan, Kabupaten Bandung dan Kota Tasikmalaya mencatatkan inflasi bulanan tertinggi masing-masing sebesar 0,39 persen dan 0,37 persen.

Sementara inflasi m-to-m terendah berada di Kabupaten Subang sebesar 0,03 persen. (bsf)


Editor : Inilahkoran