Rekomendasi Badan Geologi Terkait Pergerakan Tanah di Rongga KBB

Bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cigombong, RT 4 RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diakui Badan Geologi masuk ke dalam zona yang berpotensi terjadi gerakan tanah menengah hingga tinggi. 

Rekomendasi Badan Geologi Terkait Pergerakan Tanah di Rongga KBB
Plt Kepala Badan Geologi M Wafid mengatakan, pergerakan tanah di Rongga KBB itu dapat terjadi bila hujan sedang mengguyur dengan intensitas tinggi. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Bandung - Bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cigombong, RT 4 RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diakui Badan Geologi masuk ke dalam zona yang berpotensi terjadi gerakan tanah menengah hingga tinggi. 

Plt Kepala Badan Geologi M Wafid mengatakan, pergerakan tanah di Rongga KBB itu dapat terjadi bila hujan sedang mengguyur dengan intensitas tinggi.

"Artinya, daerah ini (Rongga KBB) mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi pergerakan tanah. Pada zona ini, dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali," ucap Wafis di Badan Geologi, Jumat 1 Maret 2024.

Ia mengungkap, terdapat sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya bencana pergerakan tanah yakni lereng yang curam, kondisi tanah yang labil, hingga curah hujan tinggi yang mengguyur di sekitar lokasi bencana.

"Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir," papar dia.

Adapun kondisi lokasi penggeseran tanah berada di wilayah perbukitan dengan kontur bergelombang dan tingkat kemiringan yang curam. Adapun lokasi pergerakan tanah berada pada ketinggian 990 mdpl. Kemudian, terungkap pula bahwa daerah terjadinya bencana tersusun dari berbagai material.

"Daerah bencana tersusun oleh Formasi Cimandiri (Tmc) yang terdiri dari perselingan batu lempung, batu lanau dan batu pasir, setempat gampingan dan setempat meliputi endapan lahar yang tersusun dari tuf, breksi andesit, dan breksi tuf," kata dia.

Lantaran hingga curah hujan masih relatif tinggi, Badan Geologi memberi sejumlah rekomendasi untuk warga dan instansi terkait. Berikut ini rekomendasinya:

1. Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan. Masyarakat di sekitar lokasi bencana atau bahaya sebaiknya diungsikan dulu ke tempat yang lebih aman;

2. Warga, aparat maupun tim yang bertugas untuk evakuasi harus mengantisipasi potensi longsoran susulan dan aliran bahan rombakan mengingat daerah tersebut masih rawan longsor serta material longsoran di kaki gunung masih banyak terutama jika turun hujan;

3. Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka bangunan yang rusak dan terancam di daerah tersebut perlu direlokasi ke lokasi yang aman;

4. Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan;

5. Tidak melakukan pengembangan pemukiman pada area terdampak pergerakan tanah;

6. Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng, tidak mencetak kolam baru di area longsoran untuk mengurangi penjenuhan lereng dan tidak melakukan penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan;

7. Jika muncul retakan di sekitar lereng tersebut agar segera ditutup dengan tanah dan dipadatkan untuk mengurangi peresapan air ke dalam tanah serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan;

8. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah;

9. Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD;

10. Tim Tanggap Darurat Badan Geologi dari Tim kerja gerakan tanah akan dikirim ke lokasi bencana untuk menganalisis potensi longsor susulan. (cesar yudistira)


Editor : Doni Ramdhani