Rekor MURI dari Balik Jeruji, 407 WB Lapas Perempuan Bandung Hidupkan Legenda

407 warga binaan dan petugas Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung mencatatkan sejarah MURI Melalui pagelaran drama Kolosal Ciung Wanara

Rekor MURI dari Balik Jeruji, 407 WB Lapas Perempuan Bandung Hidupkan Legenda
Caption Foto: Warga Lapas Perempuan Kelas II A Bandung, dalam drama kolosal Ciung Wanara yang berhasil meraih rekor MURI, Jumat (17/7/2026) lalu.

INILAHKORAN.ID - Dinding penjara bukan lagi sekadar simbol pembatas kebebasan. Di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, tembok tinggi dan jeruji besi justru menjadi ruang lahirnya karya budaya berskala nasional, yang mengantarkan 407 warga binaan (WB) dan petugas mencatatkan sejarah di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Melalui pagelaran Drama Kolosal Ciung Wanara yang digelar Jumat (17/7/2026) malam lalu, Lapas Perempuan Bandung resmi meraih Rekor MURI untuk kategori drama kolosal dengan pelibatan warga binaan pemasyarakatan terbanyak di Indonesia.

Pencapaian tersebut menjadi bukti, pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak berhenti pada aspek kedisiplinan semata, melainkan mampu melahirkan kreativitas, keterampilan, dan kepercayaan diri yang bernilai sosial maupun ekonomi.

Mengangkat legenda Sunda Ciung Wanara, pertunjukan tersebut menampilkan kisah perjuangan seorang anak yang dibuang ke sungai, tumbuh dalam kesederhanaan, lalu menemukan identitas dan haknya sebagai pewaris tahta Kerajaan Galuh. Nilai kejujuran, keberanian, kepemimpinan, dan keadilan yang terkandung dalam cerita itu dinilai sejalan dengan semangat pembinaan warga binaan untuk kembali menemukan jati diri mereka.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati mengatakan, pagelaran tersebut merupakan puncak dari proses pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Dalam laporannya, Gayatri menyebut total 407 peserta yang terlibat terdiri atas 366 warga binaan dan 41 petugas. Mereka terbagi dalam berbagai peran mulai dari pemeran utama, penata gerak, tim panggung, dekorasi, tata rias, penata busana, kelompok angklung, paduan suara, penari hingga peserta fashion show.

Menurutnya, kegiatan itu dirancang tidak hanya untuk mengembangkan bakat warga binaan, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter dan menghapus stigma negatif terhadap mantan narapidana.

"Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang luas dan menjadi wujud nyata bahwa pemasyarakatan pasti bermanfaat untuk masyarakat," ujar Gayatri dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).

Keberhasilan penyelenggaraan drama kolosal tersebut tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (Budi Luhur University) yang mendampingi proses persiapan selama kurang lebih lima bulan, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Ketua Badan Pengurus Harian Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Julian Bongso menilai, perjalanan panjang tersebut membuktikan bahwa keterbatasan ruang tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berkembang.

"Selama kurang lebih lima bulan ini, dinding di sekitar kita menjadi saksi bukanlah batasan untuk terus bertumbuh," kata Julian.

Apresiasi serupa datang dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi. Ia menilai keberhasilan Lapas Perempuan Bandung menyelenggarakan drama kolosal hingga meraih Rekor MURI menjadi representasi nyata keberhasilan sistem pemasyarakatan modern.

"Pembinaan di pemasyarakatan mampu melahirkan karya yang berkualitas sekaligus membentuk karakter untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat," ujar Mashudi.

Menurut dia, pemilihan kisah Ciung Wanara memiliki relevansi kuat dengan tujuan pembinaan karena sarat pesan moral tentang kepemimpinan, keberanian, dan keadilan.

Tak hanya itu, Mashudi juga menyoroti produk-produk kreatif warga binaan yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut.
"Pembinaan kemandirian menghasilkan karya yang bernilai seni, budaya, dan ekonomi," katanya.

Ia berharap, model pembinaan berbasis seni dan budaya yang diterapkan Lapas Perempuan Bandung dapat direplikasi oleh unit pemasyarakatan lain di seluruh Indonesia.

Selain drama kolosal, perhatian pengunjung juga tertuju pada fashion show delapan motif batik hasil karya warga binaan yang telah memiliki hak cipta.

Kedelapan motif tersebut yakni Dadali Ngapung Luhur, Macan Godhong Wening, Sisingan Puspawana, Macan Laras Buwana, Hagia Sophia Tulip Laras, Kalpataru Kawung Laras, Harmoni Priangan, dan Ciung Wanara.

Menariknya, motif Harmoni Priangan telah berkembang menjadi produk unggulan. Sejak diluncurkan pada 15 Mei 2025, motif tersebut tercatat terjual sebanyak 550 lembar dan kini digunakan sebagai seragam resmi anggota PIPAS Jawa Barat.

Kreativitas warga binaan juga mendapat apresiasi melalui sesi lelang amal. Kain batik motif Ciung Wanara yang dibuka dengan harga Rp750 ribu berhasil terjual Rp9 juta. Sementara motif Macan Godhong Wening yang dibuka pada harga Rp5,25 juta laku Rp7,89 juta.

Panitia menyebut tingginya nilai lelang bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan bentuk penghargaan terhadap karya dan proses pembinaan yang dijalani para warga binaan.

Keberhasilan meraih Rekor MURI melalui Drama Kolosal Ciung Wanara, menjadi penanda bahwa pembinaan pemasyarakatan dapat melampaui fungsi tradisionalnya. Dari balik jeruji, ratusan perempuan binaan membuktikan bahwa kesempatan untuk berkarya, berubah, dan memberi manfaat kepada masyarakat tetap terbuka, selama ruang untuk tumbuh terus diberikan. 


Editor : Ahmad Sayuti