Rudy Susmanto - Jaro Ade Bakal Evaluasi Pembuangan Sampah di TPA Galuga
Calon Wakil Bupati (Cawabup) Bogor nomor urut 1 Ade Ruhandi (Jaro Ade) yang mendampingi Rudy Susmanto srbagai Cabup Bogod mengaku akan mengevaluasi sistem pembuangan sampah di TPA Galuga atau di Bumi Tegar Beriman pada umumnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Galuga di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor sudah ada sejak 2011 lalu.
TPA Galuga memiliki luas mencapai 31,8 hektar dan pemanfaatannya oleh Pemkot Bogor dan Pemkab Bogor dengan sistem pembuangan terbuka atau open dumping.
Calon Wakil Bupati (Cawabup) Bogor nomor urut 1 Ade Ruhandi (Jaro Ade) yang mendampingi Rudy Susmanto srbagai Cabup Bogod mengaku akan mengevaluasi sistem pembuangan sampah di TPA Galuga atau di Bumi Tegar Beriman pada umumnya.
“Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan karena itu sangat merugikan masyarakat sekitar Galuga. Pemkab Bogor kedepan dengan terpilihnya Rudy Susmanto - Jaro Ade harus mengevaluasi tidak langsung dipungut dan dibuang tetapi sampah harus diolah sehingga dapat mengurangi kerugian atau pencemaran lingkungan hidup," tegas Jaro Ade kepada wartawan, Minggu, 17 November 2024.
Jaro Ade menuturkan keberadaan TPA Galuga juga harus memberikan manfaat yaitu dapat membuka lapang kerja dan mengurangi pengangguran.
Hasil perhitungan menggunakan metode cost of illness dan replacement cost menunjukkan bahwa penurunan kualitas lingkungan untuk biaya kesehatan sebesar Rp15.019.248.000,00 per tahun, sedangkan biaya pengganti air minum sebesar Rp 1.230.828.000,00 per tahun.
“Total nilai penurunan kualitas lingkungan adalah sebesar Rp 16.250.076.000,00 per tahun. Nilai ini merupakan biaya kerugian yang dirasakan masyarakat dalam waktu satu tahun terakhir. Adapun Faktor penurunan kualitas lingkungan tidak berpengaruh terhadap harga lahan,” tuturnya.
Sedangkan untuk evaluasi kualitas lingkungan sekitar TPA Galuga dilakukan dengan sampling tanah serta badan air sebelum dan setelah di mana TPA Galuga beroperasi.
“Selain sampling yang ditujukan untuk evaluasi kinerja Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) dan mutu lingkungan sekitar TPA Galuga juga dilakukan pemeriksaan karakteristik sampah yang terdapat pada ]empat pembuangan akhir sampah,” papar Jaro Ade.
Ia melanjutkan pemeriksaan karakteristik sampah bertujuan mengenali tipikal komposisi sampah domestik yang masuk ke TPA Galuga, seperti berapa bagian sampah yang merupakan bahan organik, kertas dan kayu.
Pada sampah anorganik dapat didaur ulang, seperti kertas, kardus, botol kaca, botol plastik, dan kaleng. Jika terdapat logo daur ulang pada kemasan, maka kemasan makanan tersebut dapat didaur ulang.
“Jika sampah-sampah anorganik tersebut dapat didaur ulang maka dapat diberikan kepada pemulung agar sampah sampan tersubut menjadi manfaat,” uangkapnya.
Disetiap tahunnya, timbunan sampah di Kabupaten Bogor semakin meningkat. Pada tahun 2010 timbunan sampah perharinya sebanyak 500kg dan menikat lagi pada tahun 2020 sebanyak 700-800kg .
“Kita perlu membuat program pengolahan sampah dengan melibatkan masyarakat dengan cara kegiatan lomba kebersihan, adanya TPS 3R dan Bank Sampah. oleh karena itu dengan adanya kegiatan tersebut dapat mengurangi volume sampah yang diangkut ke TPA Galuga,” pintanya.
Pengurangan sampah yang cukup berarti justru disumbang oleh para pemulung yang melakukan kegiatan pemilahan di TPA Galuga, lanjutnya.
Dimana, pada saat ini diperkirakan terdapat 1200 orang pemulung yang melakukan kegiatan pemilahan.
"Dari sekitar 1.100 ton per hari sampah yang masuk ke TPA Galuga sekitar 250 –300 ton per hari sampah yang berupa plastik maupun kertas dapat disisihkan oleh pemulung yang mana hasil pemilahan tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya dan memiliki nilai ekonomi atau mengubahnya menjadi bahan yang tidak membahayakan lingkungan," lanjut Jaro Ade.
Editor : Ahmad Sayuti

