PSEL Galuga Dibangun, Jabar Target Olah 3.500 Ton Sampah per Hari di Bogor Raya

PSEL Galuga mulai dibangun dengan kapasitas 1.500 ton sampah per hari. Jabar menargetkan tiga fasilitas mampu mengolah 3.500 ton sampah per hari.

PSEL Galuga Dibangun, Jabar Target Olah 3.500 Ton Sampah per Hari di Bogor Raya
PSEL Galuga mulai dibangun dengan kapasitas 1.500 ton sampah per hari. Jabar menargetkan tiga fasilitas mampu mengolah 3.500 ton sampah per hari.

INILAHKORAN.ID– Pemerintah Provinsi Jawa Barat mempercepat transformasi pengelolaan sampah di wilayah Bogor Raya melalui pembangunan fasilitas Pengolahan sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Galuga.

Proyek tersebut diproyeksikan menjadi salah satu solusi untuk menekan peningkatan timbulan sampah yang mencapai sekitar 5.000 ton per hari di kawasan Bogor Raya.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan pembangunan PSEL Bogor Raya I resmi dimulai dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.

“Hari ini dimulai groundbreaking pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL Bogor Raya I di Galuga. Kapasitas yang akan terbangun bisa menampung sampah 1.500 ton per hari,” ujar Herman, Kamis (17/9/2026).

Selain PSEL, pemerintah juga memulai pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi pirolisis di Galuga. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah per hari.

Jika PSEL mengolah sampah untuk menghasilkan energi listrik, fasilitas pirolisis akan difokuskan untuk mengolah timbunan sampah lama menjadi bahan bakar jenis solar.

Tiga Fasilitas Targetkan Olah 3.500 Ton sampah

Pemprov Jabar juga menyiapkan pembangunan PSEL di kawasan Kayu Manis dengan kapasitas sekitar 1.000 ton per hari.

Dengan tiga fasilitas tersebut, total kapasitas pengolahan sampah di Bogor Raya ditargetkan mencapai 3.500 ton per hari dalam dua tahun mendatang.

“Dalam dua tahun ke depan, insyaallah ketiga teknologi ini bisa mengelola sampah sampai dengan 3.500 ton per hari,” ucap Herman.

Kapasitas tersebut diharapkan dapat menangani sebagian besar sampah yang dihasilkan Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok sehingga ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dikurangi.

Namun, Herman menegaskan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi modern tidak akan cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah.

Menurut dia, perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi faktor penting, terutama dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.

Masyarakat didorong membiasakan diri mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta memperkuat praktik daur ulang.

“Harus sinergi antara pendekatan teknologi dengan pendekatan sosial,” katanya.

Baru 15 Persen sampah Jabar Tertangani

Herman mengungkapkan tantangan pengelolaan sampah di Jawa Barat masih cukup besar. Produksi sampah di provinsi tersebut saat ini mencapai sekitar 25.600 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, sekitar 3.800 ton atau 15 persen telah tertangani dengan baik. Sementara sekitar 21.800 ton per hari atau 85 persen lainnya masih belum terkelola secara optimal dan sebagian besar berakhir di TPA.

Kondisi tersebut diperberat dengan masih adanya TPA yang menggunakan sistem pembuangan terbuka atau open dumping.

Dari total 32 TPA di Jawa Barat, sekitar separuh telah menerapkan metode controlled landfill, sementara sisanya masih dalam proses transisi dari pola open dumping.

Untuk mempercepat pembenahan, Pemprov Jabar bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus menyiapkan fasilitas pengolahan sampah regional di sejumlah kawasan strategis.

Setelah Bogor Raya, pembangunan fasilitas serupa akan diarahkan ke Bekasi Raya, Bandung Raya, dan Cirebon Raya.

PSEL Bogor Raya Ditargetkan Beroperasi Akhir 2028

Herman memperkirakan seluruh fasilitas pengolahan sampah yang tengah dibangun di Bogor Raya dapat rampung dan mulai beroperasi pada akhir 2028.

“Diperkirakan akhir Desember 2028 akan tuntas dan operasional,” ucapnya.

Pembangunan fasilitas pengolahan tersebut diharapkan memperkuat penanganan sampah di Bogor Raya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA.

Pemerintah juga menargetkan pemanfaatan teknologi pengolahan sampah berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat, sehingga pengurangan sampah dapat dilakukan sejak dari sumbernya.***


Editor : JakaPermana