Rumah Panggung Kampung Mahmud, Warisan Leluhur yang Kokoh Melawan Zaman

Di tengah pesatnya pembangunan dan menjamurnya rumah-rumah permanen berbahan beton, Kampung Mahmud menyimpan jejak arsitektur tradisional khas Sunda.

Rumah Panggung Kampung Mahmud, Warisan Leluhur yang Kokoh Melawan Zaman
Puluhan rumah panggung berbahan kayu dengan dinding bilik anyaman bambu masih berdiri kokoh dan tetap dihuni oleh para pewarisnya. Bukan sekadar tempat tinggal, rumah-rumah itu menjadi simbol kuat kecintaan masyarakat Kampung Mahmud terhadap warisan leluhur. (rd dani r nugraha)

INILAHKORAN.ID - Di tengah pesatnya pembangunan dan menjamurnya rumah-rumah permanen berbahan beton, Kampung Mahmud di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung masih menyimpan jejak arsitektur tradisional Sunda yang bertahan melintasi zaman.

Puluhan rumah panggung berbahan kayu dengan dinding bilik anyaman bambu masih berdiri kokoh dan tetap dihuni oleh para pewarisnya. Bukan sekadar tempat tinggal, rumah-rumah itu menjadi simbol kuat kecintaan masyarakat Kampung Mahmud terhadap warisan leluhur.

Dari sekitar 400 kepala keluarga yang bermukim di kampung adat tersebut, sekitar 40 persen masih mempertahankan rumah panggung peninggalan orang tua mereka.

Salah satunya adalah rumah milik keluarga Haji Oyeh yang kini ditempati keturunannya. Rumah berukuran sekitar 8 x 10 meter itu diperkirakan dibangun pada era 1950-an dan hingga kini belum pernah dipugar.

Meski usianya telah melampaui setengah abad, bangunan itu tetap berdiri kokoh. Dinding bilik bambu yang dicat kapur putih masih kuat menopang konstruksi kayu dengan atap genting tanah. Lantai papan yang terawat serta jendela-jendela kayu berukuran lebar membuat bagian dalam rumah terasa sejuk, teduh, dan nyaman.

"Rumah ini masih asli, belum pernah dipugar sejak dibangun sekitar tahun 1950-an oleh nenek kami, Haji Oyeh. Sampai sekarang masih kuat dan nyaman ditempati. Kalau sekarang di Kampung Mahmud sekitar 40 persen rumah masih berbentuk panggung, sisanya sudah berubah menjadi rumah tembok," kata Dadang Suhada (58) ke INILAHKORAN.ID, Minggu (2/8/2026).

Bagi warga Kampung Mahmud, mempertahankan rumah panggung bukan semata mempertahankan bentuk bangunan. Lebih dari itu, rumah-rumah tersebut menjadi pengingat akan perjuangan para leluhur yang mendirikan kampung sekaligus menyebarkan syiar Islam di kawasan tersebut.

"Rumah yang sekarang ditempati adik saya merupakan warisan Haji Oyeh yang juga juru kunci makam pendiri Kampung Mahmud. Rumah ini kami pertahankan sebagaimana bentuk aslinya untuk mengenang jasa para leluhur," ujarnya.

Menurut Dadang, sejak awal berdirinya Kampung Mahmud terdapat sejumlah aturan adat mengenai bentuk rumah. Bangunan diwajibkan berbentuk panggung, berdinding bilik bambu, tidak menggunakan genteng barong, tidak memakai kaca, serta tidak membuat sumur.

Seiring perkembangan zaman, sebagian aturan tersebut mulai ditinggalkan. Banyak rumah kini telah berubah menjadi bangunan permanen. Namun demikian, nilai-nilai adat dan kehidupan religius masyarakat tetap terpelihara.

"Yang paling penting sampai sekarang tradisi keagamaannya masih sangat kuat. Orang tua hingga anak-anak masih rajin ke masjid untuk mengaji dan memperdalam ilmu agama," tuturnya.

Kampung Mahmud bukan hanya dikenal sebagai kampung adat, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Bandung.

Menurut cerita turun-temurun, kampung ini didirikan Abdul Manaf atau Eyang Dalem pada sekitar abad ke-15. Ia merupakan keturunan ke-7 Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon.

Sebelum kembali ke Nusantara, Eyang Dalem sempat menetap dan belajar di Kota Suci Makkah. Dari sana, dia membawa segenggam tanah dari sebuah kawasan bernama Mahmud.

Setelah tiba di tanah air, Eyang Dalem mencari lokasi yang aman untuk bermukim sekaligus berdakwah. Pilihannya jatuh pada kawasan rawa di tepian Sungai Citarum yang kala itu menjadi tempat persembunyian dari penjajahan Belanda.

Tanah yang dibawa dari Makkah kemudian dikuburkan di kawasan rawa tersebut. Di atasnya, Eyang Dalem membangun sebuah perkampungan yang kelak dikenal sebagai Kampung Mahmud.

Hingga kini, nama Kampung Mahmud tetap melekat sebagai salah satu kampung adat di Kabupaten Bandung yang masih menjaga tradisi, nilai-nilai keislaman, sekaligus mempertahankan rumah-rumah panggung warisan leluhur sebagai identitas yang tak lekang oleh waktu.


Editor : Doni Ramdhani