Sarimukti Terancam Penuh, Kota Bandung Dorong Mesin Briket di 151 Kelurahan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berharap, bantuan mesin pembuat briket tersedia di 151 kelurahan. Setiap mesin ditargetkan mampu mengolah minimal satu ton.

Sarimukti Terancam Penuh, Kota Bandung Dorong Mesin Briket di 151 Kelurahan
Sampah rumah tangga menumpuk di salah satu kawasan di Kota Bandung. Pengolahan sampah berbasis kelurahan didorong melalui mesin pembuat briket. (yogo triastopo)

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berharap, bantuan mesin pembuat briket tersedia di 151 kelurahan. Setiap mesin, nantinya ditargetkan mampu mengolah minimal satu ton sampah.

Dia menyampaikan, teknologi pengolahan sampah berupa RDF briket sudah mulai disiapkan melalui bantuan provinsi di RW 3, Kelurahan Pasir Impun. Pengolahan itu diharapkan segera berjalan dan bisa dimanfaatkan secara optimal.

"Pengolahan teknologi yang ada sekarang, bantuan dari provinsi di RW 3 Kelurahan Pasir Impun berupa pembuatan briket, RDF briket dan mudah-mudahan segera bisa dijalankan dan optimal," kata Farhan, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, pengolahan sampah lewat briket perlu diperluas sampai tingkat kelurahan. Setiap kelurahan, diharapkan mendapat dukungan mesin agar sampah bisa ditangani lebih dekat dari sumbernya.

"Kami sangat mengharapkan bantuan dari provinsi sebanyak satu mesin pembuat briket di satu kelurahan di 151 kelurahan, yang bisa menghandle minimal satu ton," ucapnya.

Langkah pengolahan sampah dari tingkat kelurahan, menjadi bagian dari upaya menghadapi persoalan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti. Kondisi Sarimukti, menjadi masalah besar sehingga dibutuhkan alternatif pengolahan sampah di Kota Bandung.

"Betul. Jadi ini menjadi masalah besar. Itu sebabnya kami sangat berharap solusi yang ditawarkan Danantara bersama PLN, Pertamina dan Kemenristek di Gedebage segera bisa kita wujudkan," ujar dia.

Farhan menyampaikan, fasilitas pengolahan di Gedebage ditargetkan mampu menangani sekitar 30 persen dari volume sampah yang ada saat ini. Pengolahan briket di tingkat kelurahan, diharapkan ikut memperkuat penanganan sampah dari sumber.

"Minimal bisa menghandle sekitar 30 persen dari sampah yang sekarang ada," harapnya.

Selain pengolahan briket, pihaknya juga menyiapkan program compost pit di tingkat lingkungan. Fasilitas berupa kotak kompos berkapasitas satu sampai dua meter kubik itu, akan ditempatkan di tiga titik pada setiap RT.

"Kami akan segera meluncurkan program namanya compost pit. Compost pit itu pembuatan kotak kompos bervolume satu meter kubik sampai dua meter kubik. Di satu RT ada tiga titik. Itu bisa menghandle sampai 30 persen lagi sampah di situ," ujar dia.

Dia menambahkan, compost pit akan diwajibkan di setiap RT. Pelaksanaannya akan mendapat dukungan subsidi, sehingga pengolahan sampah tidak hanya mengandalkan fasilitas skala kota.

"Di tiap RT diwajibkan, tapi akan dibantu nanti subsidi dari pemerintah," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani