Sebar Mantra Gaib, Kapital Diseret ke Pengadilan

Djarum Coklat Dot Com (DCDC) Pengadilan Musik sebagai wadah para musisi selalu hadir membawa angin segar dengan berbagai genre yang mampu mencuri perhatian para penikmat musik Tanah Air.

Sebar Mantra Gaib, Kapital Diseret ke Pengadilan
Djarum Coklat Dot Com (DCDC) Pengadilan Musik. (agus sn)

INILAH, Bandung - Djarum Coklat Dot Com (DCDC) Pengadilan Musik sebagai wadah para musisi selalu hadir membawa angin segar dengan berbagai genre yang mampu mencuri perhatian para penikmat musik Tanah Air.

Memasuki edisi ke-38 DCDC Pengadilan Musik kembali menghadirkan sesuatu yang berbeda. Terdakwa yang diseret bukan dari Pulau Jawa melainkan berasal dari Kalimantan Timur.

Kapital merupakan band metal asal Kutai Kartanegara yang diadili karena kekuatan mantra yang disebarkan sukses menjadi magnet dan menarik minat yang sama terhadap musik rock, hingga akhirnya, lima pemuda asal Kaltim ini sukses membentuk sebuah band pada 2004.

Formasi awal mereka terdiri dari Akbar Haka (vokal), David Haka (gitar), Wibi Wibawa alias Beng (bass), Dhani Arinda (gitar), dan Ivan Fahrani (drum).

Namun, menginjak usia 15 tahun di 2019 ini, Kapital yang kini diperkuat oleh Akbar Haka (vokal), Arie Wardhana (gitar), Baken Nainggolan (gitar), Arriezky Pratama (bass) dan Ewien Saputra (drum) telah sukses merilis album ketujuh bertajuk Mantra (Armstrech Records/2019).

Awalnya, Kapital menamakan diri sebagai The Pistol yang fokus memainkan musik dengan genre rock. Namun, seiring dengan perubahan tren di dunia musik, para personel mulai mengeksplor genre musik berbeda, hingga akhirnya mereka menemukan paduan musik yang serasi antara heavy metal dan hardcore.

Kapital menyebut, genre musik mereka dengan metalcore. Bersamaan dengan perubahan arah musik, akhirnya pada 2008 mereka resmi berganti nama menjadi Kapital. Setahun bekerja keras membangun visi dan karakter musik yang baru, album perdana berjudul Metalmorphosis (Distorsi Records/2009) sukses dirilis.

Dua single andalan “Sistem Munafik” dan “Tak Bernyawa” menjadi modal awal Kapital untuk eksis dan mengguncang setiap festival musik di Kalimantan. Meski beragam permasalahan datang silih berganti, Kapital tetap fokus dalam berkarya dan kembali ke dapur rekaman.

Album Mantra disebut-sebut akan melampaui ekspektasi para Peluru Tajam Indonesia (sebutan untuk penggemar Kapital). Eksistensi Kapital menjadi perhatian para perangkat persidangan yang bertugas di Pengadilan Musik.

Kapital diadili oleh dua Jaksa Penuntut (JPU) Budi Dalton dan Pidi Baiq, kursi Pembela ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Sementara Pengadilan dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man (Jasad) dan jalannya persidangan diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera.

Vokalis Kapital, Akbar mengaku, Mantra menjadi masterpiece dari Kapital, menandai kehadiran dan eksistensi Kapital setelah bertahun-tahun membisingkan Borneo.

"Tak hanya raungan distorsi, kami menyertakan unsur orkestrasi yang megah sekaligus kelam, juga mengalunkan alat musik etnik Dayak hingga rapalan mantra-mantra mistis dari Suku Dayak dan Kutai," ujar Akbar saat di tuntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kantin Nation Rumah The Panas Dalam, Jalan Ambon No 8A, Bandung, Jumat (29/11/2019).

Perwakilan DCDC Agus Dhanny Hartanto menuturkan, Kapital merupakan salah satu finalis Waken Metal Battle 2019 dan akan tampil di Musik Kita minggu depan.

"Ini merupakan apresiasi kita terhadap band di luar Jawa karena musik metal di Kalimantan masih mendapat respons kecil, tapi Kapital mampu membuktikan eksistensi dan kualitasnya," tutur Dhanny.

Dhanny menjelaskan, tidak hanya Kapital, tahun lalu pihaknya menghadirkan band asal Bali dan berhasil masuk menjadi finalis yang berangkat ke Jerman. Kemudian, Pengadilan Musik adalah acara reguler dan bulan depan kemungkinan akan ada karena akhir tahun ada beberapa talent band yang ingin tampil di DCDC Pengadilan Musik.

"Bulan depan merupakan edisi spesial ke- 39, karena ini menjadi event penutup di akhir tahun. Untuk DCDC Pengadilan Musik edisi ke-40 kemungkinan mulai lagi di bulan Januari 2020," jelasnya.

Dhanny mengatakan, Kalo ada kesempatan band di luar Jawa dan masuk prestasi fenomenal, kenapa tidak kita  undang musisi-musisi dari luar Pulau Jawa.

Sementara itu, Uwie Fitriyani, perwakilan Atap Promotions mengaku, kenapa Kapital? Ini untuk menjawab pertanyaan dari orang-orang kenapa selalu talent dari Bandung. "Animo untuk masa sendiri kalo di online cukup besar, sebenarnya dari Waken, Kapital punya karakter kuat yang berbau tradisional tapi banyak faktor lain yang menjadi alasan kita menghadirkan mereka," ujarnya.

Uwie menambahkan, ke depan pihaknya akan menghadirkan talent yang tak biasa. Seperti solois-solois lain yang ada di luar Bandung dan akan jadi tantangan bagi DCDC dan Atap Promotions untuk memberikan kepuasan bagi para penonton.

"Tunggu di minggu ketiga bulan Desember, kita hadirkan talent seorang cowok muda ganteng dan sedang viral," ujar Uwie. (agus sn)


Editor : suroprapanca