Selamat Jalan Kang Samsu, Penjaga Cahaya Pembawa Senyuman

Di antara riuh langkah para jurnalis foto yang mengejar cahaya, ada satu lensa yang kini tenang. Syamsuddin Syaban Nasoetion, telah kembali ke pangkuan Ilahi, bersama sang putri tercinta.

Selamat Jalan Kang Samsu, Penjaga Cahaya Pembawa Senyuman
Syamsuddin Syaban Nasoetion. (Foto: Istimewa)

DI antara riuh langkah para jurnalis foto yang mengejar cahaya, ada satu lensa yang kini tenang. Syamsuddin Syaban Nasoetion, telah kembali ke pangkuan Ilahi, bersama sang putri tercinta.

Kang Samsu, begitu dia biasa disapa, tak sekadar memotret kejadian. Dia juga merekam rasa, menahan detik, dan menghadirkan terang di tengah hiruk pikuk liputan.

Kabar kepergiannya bersama sang putri tercinta jatuh seperti senja yang terlalu cepat tiba, meninggalkan langit muram, meninggalkan para sahabat dan keluarga. Para wartawan maupun fotografer di Bandung, seakan kehilangan satu denyut yang selama ini menjaga langkah mereka tetap hangat saat bertugas.

Sejak bergabung dengan InilahKoran pada 2011, Kang Samsu telah menemani begitu banyak peristiwa. Lewat lensanya, dia membingkai cerita kota: pasar yang hidup sejak subuh, jalanan yang berdenyut, senyum warga yang tulus, riuh sepak bola Persib, atau air mata yang jatuh bisu.

Pria kelahiran Jambi, 42 tahun lalu itu bekerja tanpa banyak kata, tetapi setiap jepretannya mengandung bahasa yang bisa dibaca oleh hati siapa pun. Namun, bukan hanya karena kepiawaiannya dia dikenang. Kebaikannya jauh lebih terang daripada kilatan flash kameranya.

Kang Samsu dikenal ramah, lembut, murah senyum, sifat-sifat yang menjadi peneduh bagi banyak orang. Kawan-kawan di lapangan sering menyebutnya sebagai sosok yang selalu membuat suasana terasa ringan.

Di tengah tekanan pekerjaan, senyum Kang Samsu seperti pintu kecil ke rasa tenang. Dia tak pernah lupa mengingatkan teman untuk salat, jika sedang berkumpul bersama. Sebuah sikap sederhana, namun menggambarkan kepribadian teguh, yang menjadikan ibadah sebagai kompas di tengah padatnya pekerjaan dan tuntutan tugas.

Kedekatan itu tidak hanya dalam lingkup profesional, tapi juga emosional. Kang Samsu sering berbagi canda, menyapa siapa pun dengan tulus, mengulurkan tangan tanpa diminta. Baginya, setiap perjumpaan adalah ladang kebaikan, setiap tugas adalah ruang untuk berbagi energi positif. Dan senyumnya yang lembut itu, menjadi ciri yang paling sulit dilupakan.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun, Mang Samsu yang selalu menebar senyum,” ujar salah satu rekan wartawan di Bandung.

Dalam kalimat pendek itu, terkandung duka yang memanjang: duka kehilangan rekan kerja, kehilangan sahabat, kehilangan sosok baik yang tak pernah menuntut balasan.

Kini, di ruang-ruang redaksi dan titik-titik liputan Bandung, nama Kang Samsu bergema dalam bisik-bisik kenangan. Ada jejak langkahnya yang tertinggal di trotoar kota, ada tawa kecilnya yang seperti masih menggema di sela liputan Persib yang melelahkan.

Ada pula bayangan tubuhnya yang sigap mengangkat kamera demi menangkap momen, seolah dia masih berjalan di samping para sahabatnya.

Kepergian Kang Samsu dan putrinya bukan hanya menyisakan duka yang dalam, tetapi juga meninggalkan teladan: tentang bagaimana bekerja tanpa kehilangan kebaikan, menjadi profesional tanpa meninggalkan keramahan, menebar senyum bahkan ketika dunia sedang terburu-buru.

Dalam dunia jurnalistik yang serbacepat, saat waktu seolah melesat lebih dulu dibanding napas, Kang Samsu mengajarkan sesuatu yang lain.

Bahwa menjadi manusia baik adalah prestasi yang tak bisa ditandingi siapa pun. Bahwa di balik kamera, ada hati yang bekerja lebih keras daripada perangkat apa pun. Bahwa ketulusan dapat dirasakan meski tanpa diucapkan.

Bagi banyak rekan, dia adalah panutan tanpa pernah menyebut dirinya demikian. Dia membuat orang lain ingin menjadi lebih baik, tanpa pernah meminta apa pun untuk dirinya. Dia tidak pernah memaksa orang lain tersenyum —tetapi senyumnya membuat orang lain ikut tertawa. Dia tidak pernah mengajarkan dengan kata-kata, tetapi hidupnya sendiri adalah pelajaran yang halus, yang akan terus diingat.

Kang Samsu memang telah pulang, meninggalkan dunia yang pernah dia rekam dengan setia. Namun cahaya yang dia tinggalkan tak ikut redup. Dia menyala dalam ingatan banyak orang, menjadi lentera yang terus hidup, menjadi cerita yang tak selesai, yang terus disampaikan dari satu sahabat ke sahabat lain.

Selamat jalan, Kang Samsu. Lensa duniamu memang telah kau letakkan, tetapi cahaya kebaikanmu akan terus memantul di hati mereka yang pernah berjalan bersamamu. Dalam setiap senyum yang kembali tumbuh karena mengenangmu, kau masih hadir —utuh, hangat, dan tak pernah benar-benar pergi.

Semoga Allah melapangkan jalanmu, menerangi istirahatmu, dan menyatukan kembali engkau dengan putri tercintamu di tempat yang jauh lebih indah daripada apa pun yang bisa ditangkap kamera. ***


Editor : Gin gin T Ginulur