Seleksi Siswa Utamakan Keluarga Desil Satu
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Sumedang - Sekolah Rakyat tidak membuka pintu melalui antrean pendaftaran. Tidak ada formulir yang dibawa orang tua, tidak ada persaingan untuk mendapatkan kursi melalui jalur pendaftaran umum. Calon siswa justru dicari dan dijangkau berdasarkan kondisi keluarganya.
Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan seleksi siswa Sekolah Rakyat dilakukan melalui mekanisme penjangkauan keluarga sesuai kriteria yang telah ditetapkan pemerintah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, calon siswa berasal dari keluarga yang masuk dalam desil 1 dan desil 2. Data tersebut kemudian diperiksa untuk memastikan kondisi keluarga benar-benar sesuai dengan kriteria penerima program.
“Siapa yang bisa sekolah di sini? Yaitu yang memenuhi kriteria, berada di desil 1, di desil 2, setelah dicek memang sesuai kriteria. Tidak ada titip menitip,” katanya di Sumedang, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (1/10).
Mekanisme itu membuat Sekolah Rakyat berbeda dari sekolah pada umumnya. Masyarakat tidak datang untuk mendaftarkan anaknya, melainkan petugas yang melakukan penjangkauan terhadap keluarga yang masuk dalam sasaran program.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan pendamping sosial menjadi bagian dari proses tersebut. Mereka bekerja dengan dukungan Badan Pusat Statistik (BPS) serta dinas terkait di daerah untuk menemukan calon siswa sekaligus memastikan kesesuaian datanya.
“Jadi tidak ada pembukaan pendaftaran di Sekolah Rakyat. Yang ada adalah penjangkauan,” ujar Saifullah.
Setelah calon siswa memenuhi persyaratan, proses belum berhenti. Nama calon peserta didik harus diusulkan oleh kepala daerah sebagai bagian dari tahapan penetapan siswa Sekolah Rakyat.
“Semua yang bisa sekolahdi sini wajib diusulkan oleh Bapak Bupati. Jadi kalau Bapak Ibu sekalian sudah berada di sini, itu tentu sudah disetujui oleh Pak Bupati,” kata Saifullah.
Di balik mekanisme tersebut, pemerintah ingin memastikan kursi Sekolah Rakyat benar-benar ditempati anak-anak dari keluarga yang menjadi sasaran program. Karena itu, proses penjangkauan menjadi pintu awal untuk menyaring calon siswa berdasarkan kondisi sosial ekonomi keluarganya.
Saifullah menegaskan seluruh pihak yang terlibat harus memastikan program tidak dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Setiap calon siswa harus melewati proses pengecekan dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. (gin)
Editor : Inilahkoran

