Sertifikat Vaksin Presiden Saja Bisa Bocor, Bagaimana dengan Masyarakat? Begini Penjelasan BSNN
Dugaan kebocoran sertifikat vaksin Presiden Jokowi akhirnya dijelaskan BSNN. Masyarakat diminta waspada dengan potensi kebocoran data.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, BANDUNG - Beberapa hari lalu beredar kabar terkait bocornya sertifikat Presiden RI di media sosial.
Kabar tersebut kemudian menimbulkan kekhawatiran masyarakat mengenai data pribadinya.
Menanggapi kabar kebocoran data tersebut, Direktur Operasi dan Pengendalian Informasi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Rinaldy akhirnya memberikan penjelasan.
Rinaldy mengatakan bahwa data di internet bisa didapat dengan berbagai macam jadi belum tentu kebocoran data tersebut berasal dari aplikasi Pedulilindungi atau aplikasi lain.
"Banyak sumber yang bisa didapat dan beberapa pihak ini pandai menggabungkan antara informasi yang satu dengan informasi di tempat lain, dan mereka gabungkan untuk beberapa tujuan tertentu, tapi ini akhirnya bisa direspon oleh masyarakat berbeda," tutur Rinaldy dalam dialog produktif di kanal YouTube Forum Merdeka Barat 9, Rabu 8 September 2021.
Baca Juga: Apa Saja yang Ada di PeduliLindungi Selain Status Vaksinasi? Begini Cara Ceknya!
Rinaldy mengungkapkan bahwa masyarakat juga perlu melindungi data pribadinya dan jangan mudah disebarluaskan.
"Banyak beberapa platform yang menanyakan terkait dengan data pribadi kita dengan relanya dengan sengajanya kita memberikan, dan ini bisa diambil oleh beberapa pihak untuk tujuan tertentu,"
Meski demikian, Rinaldy mengatakan bahwa pihaknya menjadikan isu-isu kebocoran data tersebut untuk terus meningkatkan kewaspadaan.
"Inilah salah satu PR kita juga bagaimana kita memberikan literasi terkait dengan keamanan informasi dan juga kaitannya dengan diri kita sendiri bagaimana melindungi data pribadi kita," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Tenaga Ahli Menteri (TAM) Kominfo, Devie Rahmawati mengatakan bahwa Kominfo terus melakukan upaya untuk terus meningkatkan keamanan khususnya di aplikasi Pedulilindungi.
"Kita bentuk tim khusus yang kerjanya memantau sistem pusat data nasional tadi selama 24 jam sehari 7 hari dalam seminggu. Kita juga terus saling mengingatkan memperkuat sistem keamanan dan perlindungannya," ujar Devie.
Editor : inilahkoran


