Shin Tae Yong dan Hilangnya Harmonisasi
HARMONI adalah kunci. PSSI perlu belajar dari kisah sukses Roberto Mancini. Kisruh dalam penanganan tim nasional takkan berbuah apa-apa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
HARMONI adalah kunci. pssi perlu belajar dari kisah sukses Roberto Mancini. Kisruh dalam penanganan tim nasional takkan berbuah apa-apa.
Apa sebenarnya kunci sukses Italia di Euro 2020? Materi pemain mereka bukan yang terbaik. Sebagian jarang terdengar kuping publik, kecuali di Italia. Tiga pemainnya bahkan berasal dari Sassuolo, klub yang tahun 2006 lalu masih berada di Divisi IV!
Di Italia pun, Roberto Mancini pelatih biasa-biasa saja. Setidaknya, satu dekade terakhir, reputasinya masih di bawah Antonio Conte atau Massimiliano Allegri. Tapi, dia punya sesuatu yang beda: keinginan menciptakan harmonisasi di dalam tim.
Saat pertama kali menangani Italia, dia memanggil 26 pemain. Tak seorang pun yang tumbuh di kota besar –secara psikologis memungkinkan memicu ego. Pemain-pemain klub yang berbasis di Milan, Roma, dan Turin, bukan pilihan utamanya. Separuh dari pemainnya bahkan berasal dari kota kecil yang penduduknya tak lebih dari 10 ribu orang.
Bersama merekalah, bersama harmonisasi, dia membangun Gli Azzurri. Saat tampil di Euro 2020, salah satu pernyataannya paling bermakna adalah seluruh 23 pemainnya adalah pemain inti, starter. Tak seorang pun merasa lebih dari yang lain. Merekalah yang meluluhlantakkan lawan, termasuk tuan rumah Inggris pada laga final di Stadion Wembley.
Harmonisasi adalah juga senjata utama pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo. Mereka tak hanya bersama di dalam, juga luar lapangan. Mereka berkomunikasi, saling percaya. Itu salah satu modal mereka merebut medali emas ganda putri Olimpiade dalam posisi bukan pemain unggulan atas.
Lalu, bagaimana mengharapkan prestasi di tim nasional sepak bola Indonesia di tengah kurangnya harmonisasi? Ironisnya, salah satu kunci pemicu keadaan yang sering berisik itu adalah Pelatih shin tae yong.
Belum apa-apa, dia sudah bersitegang dengan Indra Sjafri, sosok yang ditempatkan pssi sebagai asistennya. Hal-hal kecil menjadi pemicu keributan di antara keduanya. pssi mengalah dan kemudian menarik Indra Sjafri menjadi Direktur Teknik.
shin tae yong berdalih soal profesional saat meminta pssi mendepak Indra Sjafri. Padahal, dalam beberapa langkah berikutnya, sikap unprofessional juga tak jauh dari dirinya. Termasuk pernyataan-pernyataannya yang kerap menusuk harga diri pssi kepada media-media di Korea Selatan.
Salah satunya ketika dia menyerang pssi yang dia nilai tak mendukung programnya. Ia maunya Timnas U-19 berlatih di Korea Selatan, tetapi pssi tak bisa memenuhi.
Tidak hanya itu, shin tae yong kemudian juga ditinggalkan para asisten pelatihnya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang dia pilih sendiri. Asistennya, sebagaimana juga shin tae yong, adalah orang-orang Korea Selatan. Dan, satu-persatu meninggalkannya.
Awalnya asisten pelatih Gong Oh Kyun di akhir 2020. Lalu, yang menyesakkan, tiga lainnya menyusul mundur pada Agustus 2021. Mereka adalah Kim Hae Won, Lee Jae Hong, dan Kim Woo Jae.
Alasan mereka personal. Tapi, patut diduga, jika empat asisten mundur membantu pelatih kepala, sesungguhnya ada persoalan di sana. Hanya, tak sampai mencuat ke ranah publik saja.
Maka, patut ditengarai, di dalam tim yang dipimpin shin tae yong sendiri sebenarnya ada masalah. shin tae yong gagal mengatasinya.
Apa imbasnya? Tentu saja pada performa tim yang dia tangani. Sejauh ini, kita tak melihat performa yang menjanjikan dari tim nasional sejak ditangani shin tae yong. Fakta dan data bisa membuktikannya.
Dalam tiga pertandingan tersisa Pra Piala Dunia 2022, Indonesia menelan dua kekalahan dan sekali imbang. Sebelum itu, Timnas Indonesia juga takluk dua kali dalam dua pertandingan uji coba di Uni Emirat Arab.
Di tim berbasis usia, penampilan tim nasional juga belum begitu mengesankan. Sebab apa? Mereka belum teruji. Yang dijalani tim U-19, misalnya, hanya melakukan uji coba menyerupai latih tanding selama berbulan-bulan berlatih di Kroasia.
Apa yang dilakukan shin tae yong terhadap timnas U-19, jika kita mau jujur, tak lebih baik dibanding saat Indra Sjafri membangun timnya. Indra mencari pemain, menyatukannya, dan melahirkan bintang-bintang baru. Prestasi yang dicapai tim U-19 binaan Indra Sjafri juga menorehkan prestasi yang mengesankan dengan gaya permainan yang membanggakan.
Pun di tim nasional senior, apa yang ditunjukkan Tim Merah Putih pun, setidaknya masih jauh dari ekspektasi yang sempat dia lontarkan. Dari sisi gaya bermain, permainan mengandalkan kekuatan fisik dengan umpan-umpan cepat ke depan khas Korea Selatan, bagi sebagian publik tak lebih baik ketimbang gaya permainan membangun serangan dari bawah yang dikembangkan pelatih sebelumnya, Luis Milla.
shin tae yong memang pelatih dengan reputasi lumayan. Dia pernah membawa Seongnam Ilhwa Chunma menjadi juara Liga Champions Asia. Dia juga pernah membawa Korea Selatan untuk pertama kalinya mengalahkan Jerman di Piala Dunia.
Tapi, itu saja tidak cukup. Jika dia gagal membangun harmonisasi di dalam tim, termasuk dengan pssi, maka akan sulit mengharapkan dia menghadirkan prestasi seperti yang dia janjikan pada 2019 lalu.
Hanya pelatih-pelatih dengan kemampuan luar biasa yang bisa lolos di tengah situasi kurang kondusif. Salah satunya Cesar Luis Menotti. Dia berada di bawah tekanan memasukkan Diego Maradona ke dalam tim nasional Argentina di Piala Dunia 1978, tapi menolaknya. “Dia masih sangat muda. Masih banyak kesempatan untuknya,” kata Menotti saat itu.
Dia benar. Maradona kemudian berkibar, juga di bawah Menotti, pada Piala Dunia Junior di Jepang tahun 1979. Dia bahkan kemudian jadi megabintang, setara Pele, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo saat ini.
Adakah shin tae yong memiliki kemampuan dan intuisi seperti Menotti? Rasanya jauh panggang dari api.
Ujian untuknya akan ada di tiga ajang yang bakal diikuti pssi tahun 2021 ini. Tampil dalam playoff Piala Asia 2023 lawan Taiwan, bermain di kualifikasi Piala Asia U-23 2022, dan berjibaku di Piala AFF 2020.
Melihat situasi yang ada, rasanya harus juga kita menyiapkan diri jika yang terjadi di lapangan adalah skenario-skenario yang tak kita kehendaki. (*)
Editor : Zulfirman

