Sikap Kami: Di Simpang Jalan Covid-19
SESUNGGUHNYA kita berada di persimpangan jalan dalam peperangan melawan Covid-19. Situasi memang mulai membaik, tapi menang perang masih jauh dari jangkauan. Maka PSBB proporsional, adaptasi kebiasaan baru, kenormalan baru, atau apapun namanya, adalah ujian sesungguhnya buat kita.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
SESUNGGUHNYA kita berada di persimpangan jalan dalam peperangan melawan Covid-19. Situasi memang mulai membaik, tapi menang perang masih jauh dari jangkauan. Maka PSBB proporsional, adaptasi kebiasaan baru, kenormalan baru, atau apapun namanya, adalah ujian sesungguhnya buat kita.
Kita bahkan bisa tegas menyatakan kondisi sekarang sedang berada di persimpangan jalan. Maka, hanya jalan pilihan yang betul-betul tepat yang bisa mengantar kita kepada kemenangan itu.
Kenapa di simpang jalan? Pertama, tentu, hingga saat ini, vaksin atas virus corona itu belum juga ditemukan. Obatnya belum ada. Kedua, modal kita untuk perang terbuka lawan virus tersebut, ternyata tak mencukupi. Beberapa daerah bahkan sudah mulai cekak.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, bahkan terang-terangan menyatakan dana yang disiapkan hanya cukup sampai Juli. Jadi, apa yang akan terjadi jika selepas Juli virus dari Wuhan, China, itu terus mengamuk. Tentu, situasinya akan lebih berat.
Dalam kondisi seperti ini, negara, hemat kita, semestinya lebih fokus pada sektor kesehatan. Kita paham, beberapa sektor pengungkit ekonomi masyarakat, perlu diberi peluang agar ekonomi lebih hidup. Tapi, misalnya, terus-terusan membahas pemindahan ibu kota baru yang butuh dana tak kira-kira itu, kita anggap sebagai kesalahan besar. Sudah, setop dulu bicara soal itu. Nanti saja.
Tetapi, pemerintah hanyalah satu sekrup dalam perlawanan terhadap corona. Sekrup yang lebih banyak sebenarnya ada pada kita, rakyat negeri ini. Kita yang harus memainkan perang ini. Pemerintah cukup menyiapkan strategi. Kitalah serdadu itu.
Sebagai serdadu, maka kitalah yang akan menjalankan strategi perang. Sementara, ketika senjata pamungkas belum kita dapat, maka yang harus kita lakukan adalah jurus penangkalan. Itulah yang oleh pemerintah disebut sebagai protokol kesehatan. Jaga jarak fisik dan sosial, cuci tangan, tidak berada di kerumunan, dan sebagainya.
Itu yang sepatutnya kita lakukan, betapapun pengatur strategi menerapkan pola PSBB, AKB, new normal, atau yang lainnya. Lakukan dengan kedisiplinan jika kita tak ingin di bawah bayang-bayang kekalahan dan kengerian, bahkan saat kita tahu kesanggupan pemerintah –katakanlah Jawa Barat—hanya sampai Juli. (*)
Editor : Zulfirman

