Sikap Kami: Euforia Ternoda
FANATISME buta adalah fenomena yang sejak dahulu biasa terjadi di dunia sepak bola. Bak deja vu dengan versi berbeda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
FANATISME buta adalah fenomena yang sejak dahulu biasa terjadi di dunia sepak bola. Bak deja vu dengan versi berbeda.
Kini teknologi telah mengubah itu semua. Mengubah budaya perkelahian di jalanan menjadi serangan-serangan brutal via media sosial. Macam-macam bentuknya, penghinaan, provokasi, ancaman, hingga rasialisme.
Euforia kemenangan Persib atas Persija dalam laga panas di Stadion GBLA, Minggu (11/1) telah dinodai segelintir oknum yang menempatkan sepak bola jauh dari nilai-nilai kesatria.
Mereka tak pernah puas dengan apa yang terlihat di lapangan. Hati mereka seolah terus bergejolak dan baru padam ketika melampiaskannya dengan ujaran-ujaran memalukan. Yang jadi korban, dua pemain dari masing-masing tim.
Gelandang Persib Thom Haye menerima teror pembunuhan usai laga berakhir. Di sisi lain, penyerang Persija Allano mengaku menjadi korban rasisme. Dua-duanya terjadi di ranah media sosial, medan yang sulit dijangkau secara berkala oleh para penegak hukum.
Media sosial seperti menjadi 'medan perang' pengganti bagi pihak-pihak yang menganggap kebrutalan bagian dari seni sepak bola. Ketika pengamanan berlapis di Stadion tak bisa ditembus, medsos adalah medan seksi bagi mereka untuk melampiaskan kegilaannya.
Nyatanya, ini tak terjadi di Indonesia saja. Di negara- negara dimana sepak bola bak sebuah Agama, fanatisme buta itu seperti sebuah benang kusut yang sulit diurai. Tengok saja hasil riset Crypto Maniaks yang menganalisis lebih dari 4 juta unggahan dari berbagai platform seperti X, Facebook, Reddit, dan Instagram.
Data dikumpulkan dalam rentang 1 Agustus 2024 hingga 31 Mei 2025, mencakup berbagai cabang olahraga, dari NFL, gulat profesional, hingga sepak bola.
Hasilnya mencengangkan, atlet-atlet sepak bola profesional jadi sasaran utama para pelaku ujaran kebencian di media sosial. Jauh melampaui cabang olah raga lainnya.
Jalan keluar dari fenomena ini kembali lagi kepada soal edukasi. Semua harus sadar, kejahatan berpikir yang terekspresikan dalam bentuk kata-kata di media sosial, sama bahayanya dengan ricuh antar suporter di jalanan.
Semua harus bersama-sama menaruh perhatian besar. Dari mulai PSSI, pihak kepolisian, manajemen tim, hingga sejumlah organisasi suporter itu sendiri.
Haruslah mulai dirumuskan bentuk sosialisasi serta edukasi yang terukur bagi para fans sepak bola agar tidak berperilaku berlebihan bahkan menjurus kriminalitas di media sosial.
Seminar-seminar terkait sepak bola dan teknologi di kalangan para suporter menjadi sebuah urgensi. Karena membangun sepak bola, tak sebatas soal memoles bakat-bakat terpendam. Kedewasaan suporter juga jadi bagian yang tak terbantahkan dari sebuah kemajuan hakiki dari sepak bola itu sendiri.
Bisa dibayangkan, ketika sepak bola kembali ke jati diri yang sesungguhnya. Sebuah pesta rakyat dimana euforia berujung canda tawa, buka berbekas noda dan luka.
Editor : Gin gin T Ginulur

