SMP Darul Hikam Cegah Perundungan di Sekolah
Sebanyak 399 siswa mengikuti Deklarasi Zero Bullying on SMP Darul Hikam, dalam rangka peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial di Aula SMP Darul Hikam, Bandung, Senin (16/12/2019).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Sebanyak 399 siswa mengikuti Deklarasi Zero Bullying on SMP Darul Hikam, dalam rangka peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial di Aula SMP Darul Hikam, Jalan Tubagus Ismail, Bandung pada Senin (16/12/2019).
Bullying (perundungan) adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan.
Seluruh siswa-siswi SMP Darul Hikam diberikan pemahaman tentang sosialisasi tentang perundungan. Misalnya, beberapa contoh kasus, seperti orang yang pernah memukul, mengejek, menghina, menggunakan kata-kata kasar dan lainnya.
Para pelaku bully mendapatkan kepuasan dari menindas orang. Ia merasa lebih kuat, lebih berkuasa, karena ada orang yang takut pada dirinya. Bisa jadi ia berpikiran, ia akan mendapat popularitas di sekolah karena ditakuti oleh siswa lainnya. Padahal sesungguhnya para pem-bully ini akan dibenci oleh orang-orang yang tidak setuju dengan tindakannya.
Alasan lain, mereka menindas adalah karena mereka iri pada kelebihan target bullying mereka, mereka merasa terancam dengan kehadiran seseorang yang lebih cantik, lebih pintar dari mereka. Atau sebenarnya mereka memiliki masalah yang menyebabkan mereka menindas untuk menyalurkan amarah mereka kepada orang lain. Mereka tidak tahu apa dampak perbuatan bullying terhadap para korban mereka. Sehingga mereka tidak merasa bersalah atas perbuatannya.
"Misalnya kamu mah gendut, kamu mah kayak gajah dan lainnya. Perilaku seperti ini tidak dibenarkan, harus di cegah dan ditangani. Terus kegiatan berikutnya tadi ada siswa yang mengalami bullying dia cerita, cerita bagaimana dia harus bertahan dari bully, jadi semacam kasih inspirasi, tetapi mereka masih kuat," ucap salah satu guru di SMP Darul Hikam, Fikri Faturahman, pada Senin (16/12/2019).
Fikri mengungkapkan, kegiatan Deklarasi Zero Bullying ini sangat penting bagi siswa-siswinya. Pihaknya sudah melakukan survei terlebih dahulu, misalnya siswa butuh pemahaman bullying itu apa, karena mereka banyak menjadi korban.
"Kami di sekolah tidak ingin menyalahkan pelaku, pelaku itu adalah korban, mungkin dulunya pernah di-bully, di rumahnya tidak diperhatikan, sehingga di sekolah berontak, atau nggak tahu memuliakan orang itu bagaimana. Jadi ini sangat penting, mengingat Hari Kesetiakawanan Sosial membangun dari sekolah, kemudian nanti metode ini untuk sekolah lain," papar Fikri.
Dia berharap, bully itu harus segera dicegah dan dilawan dengan cara anak itu paham dan dia mau membantu orang yang menjadi korban dan dia mau menyadarkan teman-temannya pelaku. (okky adiana).
Editor : suroprapanca

