Stunting Kabupaten Bandung Masih 24,1 Persen, Dadang Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Prevalensi stunting di Kabupaten Bandung masih mencapai 24,1 persen. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar intervensi menyentuh keluarga dan anak-anak.

Stunting Kabupaten Bandung Masih 24,1 Persen, Dadang Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Bupati Bandung Dadang Supriatna pun mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penurunan stunting, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, keluarga, hingga pemenuhan pangan bergizi dan sanitasi. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Prevalensi stunting di Kabupaten Bandung masih mencapai 24,1 persen pada 2024. 

Bupati Bandung Dadang Supriatna pun mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penurunan stunting, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, keluarga, hingga pemenuhan pangan bergizi dan sanitasi.

Menurut Dadang, penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar intervensi yang dilakukan benar-benar menyentuh keluarga dan anak yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

“Penanganannya pun tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor,” kata Dadang di Soreang, Minggu (11/10/2026).

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Bandung pada 2024 tercatat sebesar 24,1 persen. Angka tersebut menjadi perhatian karena stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan, kemampuan belajar, hingga kualitas sumber daya manusia pada masa depan.

Karena itu, Dadang meminta Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) mengambil peran lebih aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Peran tersebut di antaranya melalui edukasi gizi kepada masyarakat, pendampingan keluarga berisiko stunting, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta pemanfaatan data untuk menentukan intervensi yang tepat sasaran.

Selain pemenuhan gizi, Dadang juga menyoroti pentingnya keamanan pangan dalam mendukung kesehatan masyarakat. Menurutnya, makanan yang dikonsumsi sehari-hari harus memenuhi kebutuhan gizi sekaligus terjamin keamanannya.

“Makanan yang mengenyangkan belum tentu memenuhi kebutuhan gizi, dan makanan yang terlihat menarik belum tentu aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Dia menilai edukasi mengenai pangan sehat perlu diperluas ke berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, pesantren, rumah sakit, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Upaya tersebut, kata Dadang, harus berjalan beriringan dengan penguatan kerja sama antara pemerintah daerah, PERSAGI, puskesmas, posyandu, dunia pendidikan, dan pelaku usaha.

Kolaborasi itu diharapkan tidak berhenti pada koordinasi, tetapi diterjemahkan menjadi program konkret dengan target dan ukuran keberhasilan yang jelas.

Dadang juga mendorong optimalisasi pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat. Dengan begitu, pemenuhan kebutuhan gizi keluarga diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Di tengah upaya menekan prevalensi stunting, keterlibatan keluarga dan dukungan berbagai sektor menjadi bagian penting untuk memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, serta kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.


Editor : Doni Ramdhani