Super Flu Belum Ada di Cimahi, Dinkes Tetap Waspada Mengingat Ada 12 Kasus di Jabar
Dinkes Kota Cimahi memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus super flu yang disebabkan virus influenza A (H3N2) di wilayahnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinkes Kota Cimahi memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus super flu yang disebabkan virus influenza A (H3N2) di wilayahnya.
Kendati demikian, pihaknya tidak mengendurkan kewaspadaan mengingat telah tercatat 62 kasus secara nasional. Sebanyak 12 kasus di antaranya berada di Jabar termasuk Kota Bandung yang berbatasan langsung dengan Cimahi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Cimahi Dwihadi Isnalini mengatakan, kewaspadaan terkait kasus super flu kini terus ditingkatkan.
"Kami pastikan sampai saat ini belum ada kasus super flu H3N2 di Cimahi. Tapi kewaspadaan tetap kami tingkatkan," kata Dwihadi.
Menurutnya, tingginya mobilitas warga di kawasan Bandung Raya menjadi tantangan tersendiri. Arus pergerakan masyarakat yang intens antarwilayah berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular.
"Interaksi warga Cimahi dengan wilayah sekitar, terutama Bandung, sangat tinggi. Ini yang membuat risiko penularan tetap harus diantisipasi sejak dini," tuturnya.
Saat ini, terang Dwihadi, Dinkes Cimahi masih mengandalkan sistem surveilans penyakit menular yang berjalan rutin di seluruh fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, maupun klinik.
"Melalui sistem tersebut, setiap temuan gejala yang mengarah pada penyakit menular akan dipantau secara ketat," terangnya.
Tak cuma itu, Dwihadi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan super flu dengan influenza musiman. Meskipun gejalanya serupa, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih berat.
"Demam bisa sangat tinggi, bahkan di atas 39 derajat celsius, disertai nyeri otot hebat, badan terasa sangat lemah, sakit kepala berat, dan batuk kering," ungkapnya.
"Jadi super flu H3N2 ini menyebar melalui droplet dari batuk dan bersin, sehingga tempat-tempat umum yang ramai seperti sekolah, kantor, atau pasar memiliki risiko penularan yang tinggi," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

