Tak Hanya Penulisan Artikel Ilmiah, Unjani dan Dirjen Risbang Fasilitasi Puluhan Dosen dan Chief Editor Terbitkan Jurnal Terakreditasi

Status jurnal yang belum terakreditasi kerap menjadi ganjalan bagi para dosen untuk meningkatkan jenjang karirnya. Termasuk, masih kurangnya pemahaman menulis artikel ilmiah masih menjadi 'PR' bagi para dosen.

Tak Hanya Penulisan Artikel Ilmiah, Unjani dan Dirjen Risbang Fasilitasi Puluhan Dosen dan Chief Editor Terbitkan Jurnal Terakreditasi

INILAHKORAN, Cimahi - Status jurnal yang belum terakreditasi kerap menjadi ganjalan bagi para dosen untuk meningkatkan jenjang karirnya. Termasuk, masih kurangnya pemahaman menulis artikel ilmiah masih menjadi 'PR' bagi para dosen.

Kondisi itu menjadi catatan khusus Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) pada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan Unjani melaksanakan Workshop Pendampingan dan Peningkatan Jurnal Ilmiah Terakreditasi 2025 yang diselenggarakan mulai 11-13 Agustus 2025 di Aula FISIP Unjani.

"Ini merupakan kegiatan workshop tata kelola jurnal ilmiah dan workshop penulisan artikel Ilmiah," kata Ketua Tim Jurnal Ilmiah Kemdiktisaintek, Rizky Prastya saat ditemui disela kegiatan, Selasa 12 Agustus 2025.
 
Tujuan kegiatan ini, jelas Rizky, untuk menyatukan karya ilmiah terbaik yang diterbitkan pada jurnal terbaik pula. Sehingga, tidak ada lagi karya ilmiah terbaik yang terbit di jurnal-jurnal tidak baik.

"Nah, oleh karena itu, dengan kebaikan yang akan menyatukan seperti ini, maka secara tidak langsung, artikel yang terbit pada jurnal Ilmiah di Indonesia ini membawa nama harum di Indonesia dan kancah internasional," jelasnya.

Tak cuma itu, sebut Rizky, artikel-artikel terbaik tersebut rencananya bakal digunakan sebagai acuan visibilitas di masa depan.

"Jadi sebenarnya, artikel-artikel Ilmiah yang terbit pada jurnal sesuai dengan bidang ilmu itu akan digunakan oleh industri ataupun yang lainnya untuk mengembangkan industri dan pemerintah kita," imbuhnya.

Misalnya, Rizky mencontohkan, di dunia kesehatan artikel-artikel yang terkait dengan kesehatan-kesehatan itu bakal digunakan di rumah sakit pada saat ini. 

"Misalkan artikel pada sebelumnya, pada zaman Covid, maka sebelumnya obat yang untuk menyembuhkan penyakit Covid itu adanya pada artikel sebelumnya. Jadi menjadi acuan untuk ke depannya," jelasnya.

Lebih lanjut Rizky menerangkan, untuk jurnal yang sudah terakreditasi, maka tentu akan memiliki pamor dan jati diri. Bahkan, biasanya digunakan sebagai syarat penulis jurnal atau dosen untuk naik pangkat.

"Untuk dosen yang jurnalnya sudah terakreditasi bisa digunakan syarat untuk naik pangkat. Selain itu, keberadaan jurnal yang sudah terakreditasi bisa jadi acuan bagi para penulis lainnya," paparnya.

"Namun, tidak mudah untuk mendapatkan akreditasi, sebab ada tiga penilaian dari visi jurnal terakreditasi," ucapnya.

Kepala Pusat LPPM Unjani Tittha Hartyana Sutarna mengatakan, peningkatan jurnal ini menjadi salah satu upaya pihaknya untuk bisa memfasilitasi dosen-dosen dan juga untuk memperluas kerja sama dengan berbagai instansi atau universitas lain agar bisa saling mendukung untuk mewadahi para dosen dalam menerbitkan artikel ilmiahnya.

"Untuk saat ini total peserta untuk pendampingan jurnal ada 55 lebih dari 31 perguruan tinggi dan artikel ilmiah ada sekitar 60 peserta dari 41 perguruan tinggi se-Jawa Barat," ujarnya.

Dalam kegiatan ini, sebut Tittha, Unjani menjadi perwakilan Jawa Barat untuk pendampingan penulisan artikel ilmiah dan pendampingan peningkatan akreditasi jurnal.

"Kalau untuk pendampingan artikel sebagian peserta yang ikut itu sebagian besar dosen. Sedangkan pendampingan peningkatan akreditas jurnal itu chief editor atau kepala dan pengelola jurnal," ujarnya.

Tak cuma itu, pemateri penulisan artikel ilmiah dihadirkan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Materi yang disampaikan itu antara lain berkaitan dengan etika publikasi dan integritas ilmiah.

"Kemudian ada materi pembahasan terkait hasil dan pembahasan artikel jurnal nasional. Dosen-dosen yang kami undang sudah membawa draft artikel untuk kemudian dikupas tuntas," ujarnya.

Sementara terkait jurnal sendiri, terang Tittha, lantaran memang pendampingan untuk peningkatan akreditasi jurnal tentu materi yang diberikan yakni standar manajemen jurnal dan peningkatan kualitas manajemen jurnal ilmiah.

"In syaa Allah materi ini yang membantu chief editor dan anggotanya untuk meningkatkan akreditasi," tandasnya. *** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti