Ini Kesaksian Korban Selamat Tenggelamnya KMP Virgo, Faisal Ungkap Faktanya
Faisal Weskurni (26), warga Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, KBB menjadi salah satu dari 108 orang yang selamat dari musibah tenggelamnya KMP Virgo.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Faisal Weskurni (26), warga Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi salah satu dari 108 orang yang selamat dari musibah tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.
Dia berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja sebagai sopir di perkebunan kelapa sawit dengan kontrak satu tahun.
Apa yang dialaminya di atas kapal mengubah seluruh rencana hidupnya, sekaligus menyisakan pertanyaan berat soal tanggung jawab awak kapal dalam melindungi nyawa penumpang.
Menurut Faisal, sejak pukul 18.00 waktu keberangkatan, kapal sudah terasa tidak stabil. Goyangan makin kuat sepanjang malam hingga membuat banyak penumpang mual dan muntah.
Pukul 23.00, dia masih berada di area merokok ketika mendengar suara dentuman sangat keras, seperti benturan di sisi kiri kapal. Benda-benda di sekelilingnya langsung terlempar. Saat itulah dia berteriak memperingatkan penumpang lain.
“Pas aku keluar dari ruang merokok, asbak rokok itu kelempar ke sebelah kiri. Awalnya kita bercanda, tapi pas ngedengar suara itu, bangku-bangku pada berjatuhan. Aku lari ambil hape terus teriak, 'Kapal miring! Kapal miring! Kapal miring," kata Faisal saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Kemiringan terjadi cepat, hanya sekitar 10 menit, dengan sudut 10–20 derajat. Yang paling mengkhawatirkan, tidak ada pengumuman, tidak ada alarm, tidak ada arahan dari kru kapal. Faisal melihat sekoci karet di sisi kiri kapal sudah diturunkan terlebih dahulu sebelum kapal benar-benar terbalik, namun dia tidak tahu siapa yang menaikinya.
“Sebelum kapal terbalik, sekoci sudah turun duluan. Entah siapa yang masuk, aku tidak tahu. Banyak orang di dalam kapal belum sempat keluar. Aku melihat ada penumpang yang tidak bisa naik sekoci dan ditemukan sudah meninggal,” ungkapnya.
Faisal bertahan di bagian atas lambung kapal bersama 10 orang lainnya selama hampir 5 jam sebelum akhirnya terpisah terbawa arus.
Di saat-saat terakhir itu, dia melihat puluhan orang meminta tolong namun tidak bisa diselamatkan. Lima orang rekan seperjalanannya yang berangkat bersama untuk bekerja belum ditemukan hingga kini.
“Teman-teman lima orang belum ketemu. Mereka sempat masuk ke dalam mengambil barang, tidak tahu apakah sempat keluar atau tidak. Kami 15 orang berangkat bersama, termasuk satu pengawas,” ujarnya.
Hingga saat ini, data resmi mencatat 243 orang terdaftar dalam manifes kapal. Sebanyak 108 orang selamat, 12 orang meninggal dunia, dan 123 orang masih dalam proses pencarian.
Faisal telah menerima bantuan tali asih dari pihak pengelola kapal sebesar Rp4,5 juta, serta perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Gubernur Kalimantan Tengah.
Trauma mendalam masih membekas. Ia belum berani menaiki kapal lagi, bahkan pesawat terbang yang baru pertama kali ia tumpang untuk pulang pun membuatnya takut. Rencana bekerja di Kalimantan telah dibatalkan.
“Mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian seperti ini. Cukup sekali seumur hidup,” pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

