Abah Selalu Sigap Menjaga Warga, Kesaksian Tina Karina tentang Malam Terakhir Sang Ayah
Malam itu masih terasa biasa bagi keluarga Ade Dedi di rumah mereka di Jalan Lio Selatan, Kelurahan Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung. Namun bagi Tina Karina (40), putri sulung Ade Dedi, malam tersebut menjadi awal dari kehilangan yang tak pernah ia bayangkan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Malam itu masih terasa biasa bagi keluarga Ade Dedi di rumah mereka di Jalan Lio Selatan, Kelurahan Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung. Namun bagi Tina Karina (40), putri sulung Ade Dedi, malam tersebut menjadi awal dari kehilangan yang tak pernah ia bayangkan.
Tina mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi awal kejadian yang menimpa ayahnya. Ia baru mengetahui setelah sang ayah ditemukan dalam kondisi tak berdaya.
“Soal kronologis awal mula kejadian itu, saya sama sekali tidak tahu ya. Karena saya juga tahunya bapak sudah terkapar,” ujarnya.
Sekitar pukul 01.00 WIB, Ade Dedi terbangun karena ada seseorang yang datang ke rumah. Orang tersebut menyampaikan informasi mengenai situasi mencurigakan di sekitar lingkungan.
'‘Wa ade, wa ade, itu ada orang yang mencurigakan di Alfa,’” katanya.
Mendengar hal itu, Ade Dedi langsung keluar rumah. Istrinya, Wati (60), masih berada di rumah, sementara Tina sedang tidur di lantai atas. Tak seorang pun menyangka bahwa kepergian itu menjadi pertemuan terakhir mereka.
Tak lama berselang, sekitar pukul 01.30 WIB, seseorang kembali datang ke rumah membawa kabar yang membuat suasana berubah drastis.
"Nyusulin. Itu apa, ada yang nonjok, katanya sampai pingsan, ada yang nonjok,” ujarnya.
Mendengar kabar tersebut, Wati langsung berlari ke lantai atas untuk membangunkan Tina.
“‘Teteh, itu abah, ada yang nonjok, di Alfa langsung pingsan,’” katanya.
Tina bersama suami dan ibunya segera menuju lokasi kejadian. Saat tiba, ia melihat kondisi ayahnya yang sudah tergeletak tak berdaya.
"Dan memang iya, teteh sudah menemukan bapak dalam keadaan terkapar,” ujarnya.
Tanpa berpikir panjang, Tina langsung membawa ayahnya ke rumah sakit.
"Saya langsung bawa bapak ke rumah sakit dalam keadaan bapak sudah pingsan,” katanya.
Ade Dedi dikenal sebagai ketua keamanan lingkungan yang telah lama mengabdi. Menurut Tina, ayahnya selalu siap siaga menjaga keamanan warga, kapan pun dibutuhkan.
“Jadi, memang siapa pun, apapun, kalau soal keamanan, memang abah mau pagi, mau siang, mau malam, mau sore, selalu sigap,” ujarnya.
Di mata keluarga, Ade Dedi adalah sosok ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang.
“Kalau sosok abah di keluarga itu penyayang. Abah itu perhatian, abah selalu totalitas sama kenyamanan-kenyamanan warganya,” katanya.
Ia juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan tidak pernah menolak permintaan keluarganya.
“Royal, baik, apa pun keinginan istrinya, apapun itu, mau jam berapapun, siang malam selalu dikabulkan,” ujarnya.
Kepergian Ade Dedi juga meninggalkan luka mendalam bagi cucu-cucunya yang sangat dekat dengannya.
“Dan, cucu-cucunya tuh yang manja, kan. Dan, merasa mungkin kehilangan karena memang sosok abah itu penyayang banget,” katanya.
Tina menegaskan bahwa pelaku penganiayaan yang menyebabkan ayahnya meninggal dunia bukan warga sekitar.
"Bukan. Dari info-infonya, pelaku itu luar kota. Orang Depok, ya kan? Depok,” ujarnya.
Setelah pelaku ditangkap polisi, keluarga berharap hukum ditegakkan secara adil dan tegas.
“Harapan tete untuk si pelaku, mudah-mudahan dihukum dengan seberat-beratnya, seadil-adilnya, kalau bisa dia medekam di penjara sampai dia mati,” katanya.
Ia juga meminta dukungan semua pihak agar proses hukum berjalan tanpa hambatan.
"Saya pengen tegakkan keadilan yang seadil-adilnya, tanpa ada embel-embel, tanpa ada yang harus susah untuk melangkah,” ujarnya.
Di tengah duka, Tina teringat momen kebersamaan keluarga yang kini terasa seperti firasat.
“Kita kan sempat hari Minggu terakhir kita pergi untuk piknik, semua, seluruh keluarga kita,” katanya.
Saat itu, ayahnya terlihat berbeda dari biasanya.
“Di sana kita tuh memang melihat abah sedikit berbeda pendiam, agak murung, nggak gairah,” ujarnya.
Ia mengingat bagaimana ayahnya hanya duduk memperhatikan anak dan cucunya berenang.
“‘Bapak, ayo renang.’ Ah, sok saja, abah mah kalau anclum airnya habis sama Abah,” katanya.
Keesokan harinya, keluarga masih sempat berkumpul menonton pertandingan Persib bersama.
“Tapi, enggak nyangka, enggak ada yang nyangka. Tapi kan, kita hanya makhluk biasa. Allah yang menentukan segalanya,” ujarnya.
Kepergian Ade Dedi disambut duka mendalam sekaligus penghormatan besar dari warga sekitar.
“Alhamdulillah, antusias, warga. Dari mulai abah ke rumah sakit, banyak yang doain, banyak yang datang,” katanya.
Bahkan hingga beberapa hari setelah kepergian Ade Dedi, rumah duka tak pernah sepi.
“Banyak yang datang, banyak yang doain, dari mulai materi, apapun,” ujarnya.
Bagi Tina, nilai kehidupan yang ditanamkan ayahnya akan selalu menjadi pegangan.
“Yang ditanamkan kepada anak-anaknya adalah satu, jangan pernah merugikan orang lain. Berbuat baiklah, dalam apapun berbuat baiklah,” katanya.
Ade Dedi mungkin telah pergi, namun keteladanan dan kebaikannya tetap hidup—di tengah keluarga, cucu-cucunya, dan warga yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
Sebelumnya, Satreskrim Polrestabes Bandung mengungkap perkembangan kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan seorang pria meninggal dunia di sebuah minimarket di wilayah Cibiru.
Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP Anton menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula saat pelaku berbelanja di minimarket dalam kondisi dipengaruhi minuman beralkohol. Pelaku kemudian menimbulkan kecurigaan pegawai minimarket karena mengambil sejumlah barang tanpa menggunakan keranjang dan menyimpannya di dalam jaket.
“Di situ jelas bahwa adanya dugaan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” kata AKBP Anton saat memberikan keterangan pers.
Anton menyebutkan, pelaku sempat membayar barang belanjaan senilai Rp100 ribu, sementara barang lainnya dikembalikan karena tidak dibayar. Situasi tersebut memicu kecurigaan dan berujung pada cekcok mulut antara pelaku dan korban, yang kemudian berlanjut hingga ke luar minimarket.
“Sehingga pelaku melakukan pemukulan kepada korban. Yang pertama dengan cara memukul di bagian rahangnya. Setelah korban jatuh, pelaku melakukan penginjakan, menginjak di bagian dada dan leher,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, pelaku kembali memukul korban dengan menampar bagian pipi. Korban kemudian terjatuh dalam kondisi tidak sadar dan langsung dilarikan ke RSUD Ujung Berung untuk mendapatkan perawatan medis.
“Setelah itu korban langsung terjatuh, tidak sadar. Kemudian karena kondisinya dianggap pingsan langsung dibawa ke rumah sakit Ujung Berung,” kata Anton.
Sementara itu, warga yang berada di sekitar lokasi segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Petugas dari Polsek Panyileukan langsung mendatangi tempat kejadian perkara dan mengamankan pelaku tak lama setelah insiden terjadi.***
Editor : JakaPermana


